Potretkata, Bontang – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada Bontang semakin memperketat mitigasi risiko bagi tenaga medis dan staf pendukung, terutama dalam menghadapi potensi insiden tertusuk jarum. Ketua Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) RSUD Bontang, Sadryani M. Said, mengungkapkan bahwa meski sudah dilakukan berbagai upaya pencegahan, insiden ini masih terjadi setidaknya beberapa kali dalam setahun.
“Risiko tertusuk jarum masih menjadi ancaman bagi tenaga medis maupun petugas kebersihan. Kadang, meski sudah hati-hati, human error tetap bisa terjadi,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Sebagai langkah preventif, pihak rumah sakit memiliki prosedur ketat bagi korban tusukan jarum. Jika insiden melibatkan pasien, status kesehatan pasien akan dicek, termasuk memastikan apakah pasien memiliki hepatitis atau HIV. Bagi korban, segera dilakukan pembersihan luka dan diikuti dengan laporan insiden ke Komite K3 serta kepala ruangan terkait.
“Kalau pasiennya hepatitis, kami pastikan tenaga medis aman dan mereka akan dikontrol selama 3 sampai 6 bulan. Sementara jika melibatkan pasien HIV, korban langsung diberikan obat antiretroviral (ARV) untuk mencegah infeksi,” sebutnya.
Selain itu, untuk mengantisipasi paparan hepatitis, tenaga medis juga akan menjalani pemeriksaan titer antibodi. Jika titer di bawah 10.000, mereka segera disuntik vaksin dalam waktu 24 jam untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Proses tersebut, menurutnya, penting untuk mencegah risiko penularan penyakit.
“Kita tidak hanya mengandalkan kehati-hatian, tetapi juga tindakan medis cepat dan terukur,” jelas Sadryani.
RSUD Bontang berharap edukasi dan kedisiplinan tenaga kesehatan dalam mengikuti protokol K3 bisa semakin ditingkatkan. Selain perlindungan bagi tenaga medis, hal ini juga berdampak pada keselamatan pasien.
“Kami terus mengingatkan bahwa keselamatan kerja ini bukan hanya soal perlindungan pribadi, tetapi juga memengaruhi mutu pelayanan rumah sakit,” tutupnya. (Adv/Ira)
![]()






