Kukar – Desa Perjiwa, yang terletak di Kecamatan Tenggarong Seberang, terus menunjukkan geliat positif dalam sektor pertanian. Di tengah tantangan ketersediaan pupuk dan perubahan cuaca, para petani di desa ini tetap semangat mengolah sawah mereka, berkat dukungan penuh dari pemerintah desa dan mitra strategis lainnya.
Kepala Desa Perjiwa, Erik Nur Wahyudi, menyampaikan bahwa pertanian di desanya kini berada dalam kondisi stabil. Pemerintah desa, kata Erik, tak tinggal diam dan terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga bahkan meningkatkan produktivitas pertanian lokal.
Salah satu strategi yang diandalkan adalah penguatan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui BUMDes, petani diberi ruang untuk mengembangkan jalur distribusi hasil panen, hingga menjajaki produk lokal berupa beras kemasan khas Perjiwa.
“Kami mencoba mengolah hasil panen menjadi produk beras sendiri. Saat ini masih tahap belajar, tapi harapannya bisa menjadi nilai tambah bagi petani,” ujar Erik, Rabu (18/6/2025).
Di sisi lain, sinergi antara petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar juga menjadi kunci keberhasilan. Melalui pendampingan intensif, para petani memperoleh pengetahuan baru dan bimbingan teknis, mulai dari pemilihan bibit hingga teknik panen yang lebih efisien.
Meskipun masih ada kendala, terutama soal keterbatasan pupuk bersubsidi, Erik tetap optimistis. Menurutnya, persoalan pupuk menjadi perhatian serius dan pihaknya terus menjalin komunikasi dengan instansi terkait untuk mencari solusi. “Mungkin saat ini kendalanya di pupuk saja. Tapi semangat petani kami luar biasa,” katanya.
Komoditas utama pertanian di Perjiwa adalah padi. Dalam kondisi cuaca yang baik, para petani bisa panen hingga tiga kali setahun. Namun jika suhu terlalu panas, siklus panen bisa berkurang menjadi dua kali. Meski demikian, potensi hasil pertanian tetap tinggi. “Setiap kelompok tani bisa menghasilkan 25 ton per panen. Di sini ada sekitar 7-8 kelompok tani yang aktif,” jelas Erik.
Selain menjual hasil panen ke pasar tradisional, para petani kini diarahkan untuk membangun brand lokal. Pemdes bersama BUMDes tengah mengembangkan sistem pengemasan dan pemasaran beras dengan identitas khas Perjiwa. Langkah ini diyakini mampu mendongkrak nilai ekonomi sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Upaya memperkuat sektor pertanian ini juga didukung dengan bantuan alat-alat pertanian dari pemerintah. Erik menilai, alat modern sangat membantu petani dalam menghemat waktu dan tenaga. “Kami bersyukur sudah mendapat bantuan alat dari pemerintah. Ini sangat berarti bagi efisiensi kerja petani,” ujarnya.
Melalui kolaborasi dan inovasi yang terus digulirkan, Desa Perjiwa kini menjadi salah satu contoh desa yang serius membangun ketahanan pangan dari akar rumput. Dengan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan para pelaku pertanian, cita-cita menjadikan Perjiwa sebagai lumbung pangan lokal tampaknya bukan hal yang mustahil. (Adv)
![]()







