Kukar – Tak banyak desa berani bermimpi besar memulihkan lahan bekas tambang yang gersang menjadi hamparan hijau. Namun Desa Embalut di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh dari tanah tandus.
Melalui dukungan pemerintah desa dan kolaborasi warga, sekitar 40 hektare lahan eks‑tambang kini berubah menjadi kebun jagung dan aneka hortikultura yang siap menambah pundi‑pundi ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Embalut, Yahya, menuturkan ide itu lahir dari kebutuhan mendesak yaitu sawah di Embalut terbatas, sementara permintaan pangan lokal terus meningkat. “Kami melihat lahan bekas tambang masih punya potensi besar bila dikelola dengan tepat,” ujarnya, Senin (23/6/2025).
Bukannya membiarkan tanah terlantar, pemerintah desa memutuskan menyulam bekas galian menjadi ladang produktif. Proses ini bukan sekadar menebar benih lalu menunggu panen. Tim teknis desa turun langsung memberikan pendampingan mulai dari uji kesuburan tanah, pemilihan bibit jagung dan sayur yang toleran terhadap kondisi lahan, hingga cara mengatur irigasi sederhana.
Hasilnya mulai terlihat tunas jagung berbaris rapi, semangka dan cabai tumbuh subur, menambah rona hijau di bekas kolam tambang yang dulu keruh. “Keberhasilan ini menunjukkan lahan tak bernilai bisa dihidupkan kembali,” tutur Yahya. Manfaatnya pun berlapis bukan hanya membuka sumber pendapatan baru, tetapi juga menekan risiko longsor dan debu dari lahan yang sebelumnya terbuka, sekaligus memperbaiki mikroklimat di sekitar desa.
Agar panen tak berhenti di ladang, Pemdes Embalut menggandeng dinas terkait untuk memfasilitasi akses pasar. Petani mendapat bimbingan cara mengemas hasil panen, sementara jalur distribusi ke Tenggarong dan Samarinda mulai dibangun. “Kepastian pembeli membuat petani lebih bersemangat menanam,” kata Yahya.
Program ini juga membuka lapangan kerja dari buruh tanam hingga kelompok pemuda yang kini mengelola unit pengolahan jagung pipilan. Perempuan desa terlibat memproduksi kripik dan sambal jagung, menambah ragam UMKM lokal.
Pemanfaatan lahan eks‑tambang di Embalut kini dilirik desa tetangga sebagai living lab reklamasi hijau. Pemerintah kabupaten pun melihat peluang untuk mereplikasi model ini pada kantong‑kantong bekas galian lain, sehingga agenda pemulihan lingkungan berjalan seiring penguatan ekonomi rakyat.
Di tengah krisis lahan pertanian nasional, kisah Embalut menjadi kabar baik yakni pembangunan tak harus mengorbankan alam, bahkan lahan yang pernah tergadaikan bisa dihidupkan kembali jika masyarakat dan pemerintah bergandeng tangan.
“Semoga kebun jagung ini hanyalah awal, kami ingin menunjukkan, dari Embalut untuk Kukar, bahwa bumi yang terluka pun bisa pulih dan menyejahterakan asal ada kemauan dan gotong royong,” tutup Yahya. (Adv)
![]()






