BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang memastikan persoalan perpanjangan izin lahan akses masuk SMP Negeri 5 Bontang telah tuntas. Pihak perusahaan kini telah memberikan izin penggunaan lahan, sehingga akses menuju sekolah tetap dapat digunakan.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan kepastian ini menjadi langkah penting setelah sebelumnya status lahan sempat menjadi kendala utama.
Meski begitu, ia menegaskan persoalan belum sepenuhnya selesai. Pasalnya, kondisi jembatan yang menjadi akses utama masih membutuhkan perbaikan karena dinilai kurang layak.
Beberapa bagian jembatan mengalami penurunan pada sambungan, serta pagar pembatas terlihat miring sehingga berpotensi membahayakan pengguna, khususnya siswa.
“Jembatan itu memang harus diperbaiki, karena kondisinya sudah kurang layak,” ujar Safa.
Namun demikian, Disdikbud tidak serta-merta mendorong perbaikan melalui APBD. Pihaknya justru mengupayakan kolaborasi dengan perusahaan di sekitar kawasan sekolah melalui program tanggung jawab sosial atau CSR.
“Kami coba usulkan nanti ke perusahaan di sekitar wilayah sekolah untuk memberikan bantuan,” ungkapnya.
Safa menyebut, pendekatan akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, agar perusahaan dapat berkontribusi secara gotong royong dalam perbaikan akses tersebut.
“Nanti saya dan bunda (Wali Kota Bontang) akan coba obrolkan di forum CSR,” pungkasnya.
Dengan skema tersebut, diharapkan perbaikan jembatan dapat segera direalisasikan tanpa harus menunggu proses panjang penganggaran, sehingga akses siswa menuju sekolah menjadi lebih aman dan layak.
“Semoga saja ini bisa terwujud apalagi saat ini kondisi keuangan daerah juga sedang terbatas,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Akses utama menuju SMP Negeri 5 Bontang dipastikan tetap bisa digunakan setelah pihak perusahaan pemilik lahan, PT KNE, menyetujui perpanjangan izin pemanfaatan jembatan oleh sekolah.
Kepastian ini menjadi angin segar bagi pihak sekolah. Pasalnya, jembatan tersebut selama ini menjadi jalur utama yang digunakan ratusan siswa untuk berangkat dan pulang sekolah setiap hari.
Wakil Kepala Sekolah SMPN 5 Bontang, Sari Indrawati, menjelaskan bahwa sebelumnya sempat ada wacana penggunaan jalur alternatif di bagian belakang kawasan sekolah. Namun, opsi tersebut dinilai kurang ideal.
Ia menyebut jalur alternatif itu harus menampung pergerakan siswa dari beberapa sekolah yang berada dalam satu kawasan, sehingga berpotensi menimbulkan kepadatan.
“Kalau semua diarahkan ke jalur belakang, itu jadi menumpuk. Apalagi dipakai juga oleh siswa dari jenjang lain,” ujarnya.(adv)
![]()







