Samarinda – Distribusi gas elpiji 3 kilogram di Samarinda menjadi sorotan Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Adnan Faridhan. Ia menilai harga jual gas bersubsidi tersebut telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), bahkan mencapai Rp40 ribu per tabung di tingkat pengecer.
Menurutnya, lonjakan harga tersebut menyulitkan warga kurang mampu yang seharusnya menjadi penerima utama subsidi.
“Ini perlu diawasi ketat. Gas melon sebenarnya untuk orang tidak mampu. Malahan saya dengan ada orang kaya yang pakai juga,” ungkap Adnan saat ditemui, Kamis (26/7/2025).
Selain soal harga, politisi ini juga menyoroti tidak meratanya penyaluran gas bersubsidi. Ia menyebut lemahnya pengawasan membuka celah penyalahgunaan oleh kalangan ekonomi menengah ke atas, yang seharusnya tidak berhak menikmati subsidi tersebut. Akibatnya, banyak warga miskin kesulitan mendapatkan gas 3 kg.
Adnan mendorong adanya langkah konkret dari Pemerintah Kota Samarinda, termasuk memanggil pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab atas distribusi.
“Saya rasa ini perlu memanggil pihak pendistribusi, karena mereka yang menyalurkan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan regulasi yang mengatur kriteria penerima gas subsidi secara jelas. Menurutnya, pembentukan tim pengawasan sangat krusial agar penyaluran benar-benar tepat sasaran.
“Jika ada temuan saya rasa harus ditindak, cabut aja izin distributor kalau ketahuan nakal. Makanya saya menyarakan bentuk tim pengawas. Jadi penyaluran bisa diawasi ketat, karena gas 3 Kg memang diperuntukan bagi orang miskin,” pungkas Adnan.
Gas elpiji 3 kg merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang tidak dapat digantikan. Karena itu, pengelolaannya harus transparan dan berpihak pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.(ADV/DPRDSMR/GB)
![]()





