Kukar – Sebuah semangat baru tengah menyala di jantung desa-desa Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara. Pemerintah kecamatan bersiap menggulirkan gerakan ekonomi dari bawah melalui pembentukan Koperasi Merah Putih yang akan hadir di seluruh desa.
Langkah ini tak hanya dirancang sebagai proyek administratif, tetapi sebagai gerakan pemberdayaan kolektif yang merangkul warga menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi. Hingga pertengahan Mei 2025, dari 11 desa yang ada, dua desa telah lebih dulu menyelenggarakan Musyawarah Desa (Musdes) Khusus. Lima desa menyusul hari ini, dan empat desa lainnya dijadwalkan menyusul pada Selasa dan Rabu mendatang.
“Ini bukan sekadar formalitas. Musdes Khusus menjadi gerbang awal membentuk koperasi yang akan menjadi kendaraan masyarakat membangun kemandirian ekonomi,” ujar Camat Kembang Janggut, Suhartono, saat ditemui Rabu (14/5/2025).
Ia menyebut, meskipun beberapa desa telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kehadiran Koperasi Merah Putih tak dimaksudkan untuk mengganti, melainkan melengkapi dan memperkuat ekosistem usaha desa.
“Koperasi dan BUMDes itu seperti dua sisi mata uang. Bukan untuk bersaing, tapi untuk saling menopang. Kuncinya ada di sinergi, bukan duplikasi,” ungkap Suhartono.
Koperasi Merah Putih dirancang fleksibel, dengan enam unit usaha dasar seperti simpan pinjam, apotek desa, hingga warung grosir. Namun, implementasinya tetap akan mengikuti kebutuhan riil dan potensi lokal yang unik di tiap desa.
“Setiap desa punya wajah dan karakter sendiri. Maka bentuk usahanya juga akan menyesuaikan. Kita tidak bisa seragamkan semua,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kelembagaan ekonomi, Koperasi Merah Putih digagas sebagai motor perubahan sosial. Suhartono menaruh harapan besar bahwa koperasi ini dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat solidaritas warga, dan membuka ruang baru bagi partisipasi aktif dalam pembangunan.
“Yang kita bangun bukan cuma koperasi, tapi kesadaran baru bahwa masyarakat bisa jadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan,” tuturnya.
Inisiatif ini juga sejalan dengan program nasional dalam mendorong model ekonomi berbasis komunitas yang tangguh, legal, dan profesional. Jika sukses diterapkan, skema ini diyakini bisa menjadi role model bagi kecamatan lain di Kukar bahkan Kalimantan Timur.
“Jika kita bisa membuktikan keberhasilannya, bukan tidak mungkin Kembang Janggut akan dikenal sebagai pelopor kebangkitan ekonomi desa di Kutai Kartanegara,” pungkas. (Adv)
![]()







