Samarinda – Rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy/WtE) di Kota Samarinda masih menghadapi kendala krusial: volume sampah belum memenuhi standar minimal operasional.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengungkapkan bahwa saat ini Kota Tepian hanya menghasilkan sekitar 500–600 ton sampah per hari. Sementara itu, teknologi WtE membutuhkan pasokan minimal 1.000 ton per hari agar dapat berjalan optimal.
“Persyaratan utama untuk menjalankan teknologi Waste to Energy adalah jumlah sampah yang sesuai dengan kebutuhan teknisnya. Saat ini kita masih belum memenuhi kuota tersebut,” jelas Deni, Kamis (31/7/2025).
Untuk menutupi kekurangan tersebut, Deni menyebut Pemkot Samarinda sedang mempertimbangkan kerja sama lintas wilayah, salah satunya dengan Kabupaten Kutai Kartanegara.
“Pemerintah kota mewacanakan kerja sama lintas daerah. Misalnya, Kukar bisa mengirimkan sebagian sampahnya ke Samarinda, sehingga kebutuhan volume minimal dapat tercapai,” tambahnya.
Selain itu, ia menilai pelibatan pihak ketiga yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah modern dapat mempercepat realisasi proyek ini.
“Banyak perusahaan yang siap menangani pengelolaan sampah secara modern. Tinggal bagaimana respons dan kesiapan Pemkot untuk menindaklanjuti penawaran dan solusi yang ada,” ujarnya.
Bagi Deni, pengembangan teknologi WtE adalah langkah strategis untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah di Samarinda menjadi lebih modern dan berkelanjutan.
“Kita ingin pengelolaan sampah di Samarinda tidak lagi bergantung pada TPA konvensional. WtE adalah masa depan,” tegasnya.
Ia berharap proyek ini bisa mulai terealisasi paling lambat pada 2026. (ADV/DPRDSMR/GB)
![]()





