BONTANG – Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan non-formal bukan hanya soal kurikulum, melainkan cara memulihkan kepercayaan diri siswa.
Menyadari hal tersebut, SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bontang menempatkan pendidikan karakter sebagai pilar utama untuk menghapus rasa rendah diri yang sering dialami warga belajar jalur kesetaraan.
Banyak siswa yang masuk ke SKB membawa beban psikologis karena merasa “tertinggal” atau malu harus sekolah di jalur paket.
Oleh karena itu, para pengajar di SKB Bontang berperan aktif dalam menanamkan pola pikir positif bahwa pendidikan kesetaraan memiliki martabat yang sama dengan sekolah formal.
Plt Kepala SKB Bontang, Hairul Saleh, menekankan bahwa perubahan mental adalah kunci keberhasilan siswa.
“Kami sering melihat siswa yang di awal masuk cenderung menutup diri karena merasa minder.
Tugas pertama kami bukan langsung mengajar teori, tapi mengangkat mental mereka. Kami tanamkan bahwa sekolah di SKB adalah langkah berani untuk memperbaiki masa depan,” ungkap Hairul.
Melalui pendekatan yang humanis, pemberian apresiasi (reward) atas pencapaian kecil, serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan sekolah, siswa perlahan mulai bangkit.
Pendidikan karakter di SKB dirancang agar warga belajar memiliki daya juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah pada keadaan.
“Baik itu di dunia kerja maupun saat melanjutkan pendidikan. Percaya diri adalah modal utama agar ijazah yang mereka miliki bisa bermanfaat maksimal,” tambahnya.
Upaya SKB Bontang dalam membangun karakter ini membuktikan bahwa lembaga ini tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik.
“Tetapi juga individu yang tangguh dan memiliki integritas diri yang kuat,” pungkasnya.(adv)
![]()







