Kukar – Desa Margahayu di Kecamatan Loa Kulu menjadi contoh nyata bagaimana perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian dan perkebunan dapat mengubah wajah ekonomi desa. Di tengah geliat pembangunan, desa ini menapaki jalur mandiri dengan mengoptimalkan potensi lokal serta dukungan dari program pemerintah.
Sebanyak 35 persen dari sekitar 1.200 kepala keluarga di desa tersebut menggantungkan hidup dari kebun karet dan sawit. Sisanya bergiat di sektor pertanian, seperti persawahan. Sektor-sektor inilah yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi warga, sebagaimana disampaikan Kepala Desa Margahayu, Rusdi.
“Alhamdulillah, bantuan bibit karet dari pemerintah sekitar sepuluh tahun lalu kini sudah membuahkan hasil. Kebun-kebun mulai produktif dan menjadi sumber penghidupan warga,” ujar Rusdi saat ditemui, Kamis (10/7).
Pemerintah desa pun tak tinggal diam. Melalui Dana Desa, Margahayu kini mulai mengembangkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mandiri Sejahtera sebagai penyokong ekonomi. BUMDes diarahkan untuk menjadi perantara antara petani dan pabrik pengolahan, sehingga proses distribusi menjadi lebih efisien.
Salah satu inovasi yang sedang dijajaki adalah kerja sama dengan pabrik pengolahan karet di Palaran. “Kita ingin hasil karet warga langsung ditampung BUMDes. Tidak perlu jauh-jauh ke Samarinda. Ini bisa memangkas biaya operasional,” jelas Rusdi.
Tak hanya karet, potensi sawit juga mulai tumbuh, terutama di kalangan generasi muda. Sekitar 10 persen lahan desa kini sudah ditanami sawit, dengan dorongan dari program binaan PT Niaga Emas yang memiliki pabrik pengolahan sawit di sekitar wilayah desa.
“Anak-anak muda sekarang mulai melihat sawit sebagai peluang besar. Karena pasarnya jelas dan pabriknya dekat, minat mereka untuk menggarap lahan semakin meningkat,” tambah Rusdi. Saat ini, sebanyak 20 kelompok tani di Margahayu telah memiliki legalitas resmi. Peralihan dari sawah ke kebun karet dan sawit menjadi pilihan banyak petani, mengikuti tren kebutuhan pasar dan efisiensi lahan.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal pemasaran hasil karet yang masih mengandalkan jalur lama dengan biaya tinggi, Rusdi berharap BUMDes bisa menjembatani tantangan itu. “Kami ingin petani bisa fokus ke produksi. Urusan distribusi biar BUMDes yang urus. Ini akan meringankan beban petani,” tuturnya.
Ke depan, ia juga mendorong pelatihan pengolahan hasil perkebunan agar produk desa memiliki nilai tambah. “Kalau selama ini karet dijual mentah, semoga nanti bisa diolah dulu. Ini tentu akan menaikkan harga dan menambah penghasilan petani,” pungkasnya. (Adv)
![]()







