Kukar – Sektor perikanan masih menjadi tulang punggung utama perekonomian masyarakat di Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara. Meskipun demikian, geliat pertumbuhan di sektor lain seperti UMKM, pariwisata, dan perkebunan mulai memberikan harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Camat Muara Muntai, Mulyadi, menegaskan bahwa potensi perikanan tetap menjadi kekuatan utama wilayahnya. “Sebenarnya potensi yang kita miliki di sini masih sama seperti dulu. Potensi utama kita ada di sektor perikanan,” ujarnya, Rabu (18/6/2025).
Namun, menurut Mulyadi, sektor UMKM juga menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir. Produk-produk lokal hasil kreasi masyarakat mulai dikenal luas dan berpotensi untuk menembus pasar yang lebih besar.
“Berbagai produk lokal yang dihasilkan masyarakat di sini punya peluang besar. Hanya saja, masih diperlukan strategi pemasaran yang tepat agar bisa bersaing lebih jauh,” jelasnya.
Potensi lain yang tak kalah menjanjikan datang dari sektor pariwisata. Muara Muntai memiliki kekayaan alam yang indah dan khas, yang menurut Mulyadi, bisa menjadi daya tarik wisatawan baik dari dalam maupun luar daerah. “Tinggal bagaimana kita menjalin kolaborasi yang kuat dengan OPD-OPD terkait untuk mengembangkan destinasi wisata yang ada,” katanya.
Sementara itu, beberapa desa di wilayah Muara Muntai juga mulai mengembangkan sektor perkebunan. Tanaman buah seperti semangka mulai banyak dibudidayakan, terutama di daerah yang memiliki kondisi tanah cocok untuk berkebun.
“Salah satu wilayah yang cocok untuk tanaman buah adalah Desa Perian atau Muara Leka. Posisi geografisnya berada di dataran tinggi, sehingga lebih ideal untuk aktivitas pertanian,” terang Mulyadi. Namun, desa-desa yang berada di tepian sungai dan danau menghadapi tantangan tersendiri, terutama fluktuasi air yang tidak bisa diprediksi. Hal ini berdampak langsung pada hasil pertanian warga.
“Kalau terjadi hujan deras dan air sungai naik secara tiba-tiba, lahan-lahan pertanian warga bisa tergenang. Ini tentu sangat merugikan,” imbuhnya. Petani yang menanam komoditas seperti cabai dan singkong adalah yang paling terdampak. “Sering kali belum sempat panen, tanaman mereka sudah rusak karena kenaikan air yang mendadak,” pungkas Mulyadi. (Adv)
![]()







