Kukar – Pengembangan ternak sapi di Kutai Kartanegara memiliki potensi yang sangat menjanjikan, terutama karena kebutuhan daging di Kaltim masih kurang, sehingga saat ini daging masih didatangkan dari luar daerah.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar, Aji Gozali Rahman, mengungkapkan bahwa Kaltim masih kekurangan pasokan daging dan mendatangkan antara 65 ribu hingga 75 ribu sapi potong per tahun dari Nusa Tenggara Timur.
“Populasi sapi kita baru sekitar 30 ribu. Kukar masih dikatakan dalam tahap pengembangan sapi potong dan akan disebut surplus bila mencapai populasi antara 700 ribu hingga 1 juta ekor. Jika sudah surplus, kita tidak perlu lagi mendatangkan pejantan dari luar Kaltim,” ujarnya, Senin (05/05/2025).
Tujuan dari pengembangan ternak ini adalah meningkatkan populasi, produksi, dan produktivitas ternak, yang pada akhirnya diharapkan bisa meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan peternak.
Distanak Kukar terus mendorong pengembangan usaha peternakan sapi di 20 kecamatan yang sangat berpotensi memenuhi kebutuhan daging di kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
“Usaha pengembangan sapi ada di seluruh kecamatan, seperti Muara Muntai, Muara Uwis, dan Muara Kaman, di mana peternakan kerbau juga cukup dominan,” tambah Gozali.
Dia menjelaskan bahwa ada dua sistem dalam ternak sapi, yaitu penggemukan dan pembibitan. Di Kukar, sebagian besar peternak menggunakan sistem penggemukan yang hanya memakan waktu tiga bulan, sedangkan pembibitan membutuhkan hingga sembilan bulan.
“Harapannya, kita dapat menambah bibit sapi tahun ini, untuk memenuhi kebutuhan daging yang masih kurang. Saat ini sejumlah sapi masih mengandalkan suplai dari luar Kaltim. Kebutuhan daging sapi di Kaltim sekitar 1.100, dan ini sangat kurang,” tutupnya. (Adv)
![]()







