Rabu, 29 Juli 2026
potretkata.co
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Bontang
    • Penajam Paser Utara
    • Paser
    • Kutai Barat
    • Mahulu
    • Berau
    • Balikpapan
  • Politik
  • Ekonomi
  • Advertorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kutai Kartanegara
  • Infrastruktur
  • Lainnya
    • Opini
    • Peristiwa & Kriminal
potretkata.co
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Bontang
    • Penajam Paser Utara
    • Paser
    • Kutai Barat
    • Mahulu
    • Berau
    • Balikpapan
  • Politik
  • Ekonomi
  • Advertorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kutai Kartanegara
  • Infrastruktur
  • Lainnya
    • Opini
    • Peristiwa & Kriminal
No Result
View All Result
potretkata.co
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Ekonomi
  • Advertorial
  • Infrastruktur
  • Lainnya
Home Lainnya Opini

Dua Puluh Satu April Bukanlah Persoalan Berkebaya Saja, Melainkan Perlawanan terhadap Patriarki, Feodalisme, dan Nasionalisme Indonesia

Reading Time: 4 mins read
A A
21 April 2024

Kilas Balik Lahirnya Kartini

Kartini— dengan nama lengkap Raden Ajeng Kartini yang lahir pada 21 April 1879—
yang kerap kali disebut-sebut setiap tanggal 21 April tiap tahunnya merupakan
seorang perempuan yang lahir di daerah Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Hari Kartini
pada mulanya ditetapkan sebagai salah satu hari bersejarah melalui Keputusan
Presiden Nomor 108 Tahun 1964 oleh Presiden Soekarno pada 2 Mei 1964.

Secara dejure, hadirnya Keppres tersebut menjadikannya pula sebagai salah satu Pahlawan
Kemerdekaan Nasional, sebab secara de facto, sepanjang perjalanan hidupnya, Kartini
merupakan salah satu sosok perempuan yang banyak menyumbangkan tenaga serta
gagasannya mengenai beberapa opini kritis perihal kesetaraan hak perempuan,
feodalisme, dan nasionalisme pada zaman itu melalui tulisan-tulisannya. Surat-surat
kartini pertama kali diterbitkan pada tahun 1911 di Semarang, Surabaya, dan Den
Haag atas prakarsa Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, Mr.
J.H. Abendanon. Kumpulan surat-surat tersebut diberi judul Door Duisternis tot Lich
(DDTL): Gedachten Over en Voor Het Javaanche Volk van Raden Ajeng Kartini, dan
diterbitkan oleh G.C.T. van Dorp&Co.

Perjuangan Kartini dan Euforia Periodik Semata

Seorang penulis pernah mengatakan bahwasanya peringatan Hari Kartini tak ubahnya
merupakan perayaan yang kurang esensial, yang dilakukan hanya itu-itu saja: para
perempuan berlomba memakai busana tradisional, serangkaian pidato atau sambutan
diucapkan, seorang berefleksi dalam forum-forum diskusi atau menggelar bakti sosial,
tetapi sesudahnya hidup tak berubah sedikit pun.

Di satu sisi, perayaan ini hanyalah

sebuah perayaan kebebasan utopis yang tidak mampu menjelaskan semangat
feminisme Kartini yang sebenarnya. Bahkan, Pramoedya Ananta Toer— seorang
sastrawan yang sering dilabeli dengan tokoh kiri pada zaman kolonialisme—
mengatakan “Pemitosan terhadap ketokohan Kartini, atau semacam tidak lebih dari
„simbol‟ tentu saja akan mendangkalkan perjuangan dan pemikiran-pemikiran Kartini
yang sesungguhnya lebih universal, bersifat kebangsaan (nation) dalam hal ini Kartini
selalu konsisten dengan kata „rakyat‟”.

Secara eksplisit, kutipan tersebut mengatakan bahwasanya nilai-nilai yang kita
pahami selama ini dari seorang Kartini hanya nilai limitatif mengenai perempuan saja,
tanpa pernah kita bertanya bentuk seperti apa yang diperjuangankan oleh Kartini
dalam hal kesetaraan hak antar laki-laki dan perempuan? Apa yang ditentang oleh
Kartini? Apakah hanya ketidaksetaraan itu saja, ataukah nilai lain seperti feodalistik
yang ada pada zaman kolonial? Dan masih banyak lagi.

Sejak kecil, Kartini sudah mengalami fakta yang tidak mudah, mulai dari bentuk
diskriminasi sosial yang Ia dapatkan ketika dilahirkan, yaitu merasakan perbedaan
antara gedung utama dan rumah luar, tempat Ia dilahirkan. Kemudian , Ia juga terlibat
dalam konflik “Permaduan” oleh ayahnya yang pada saat Ia dilahirkan dari ibunya,
sudah memperistri perempuan lain terlebih dahulu, yang merupakan bangsawan
keturunan Ratu Madura sehingga posisi tersebut menempatkan Kartini di bawah
pengasuhan inang pengasuh, alih-alih ibu kandungnya, dan masih banyak lagi.

Pun ketika Ia dewasa, Kartini mulai merasakan eratnya belenggu budaya patriarki
dengan latar belakang Feodalisme Jawa, yang dalam bahasa Jawa biasa disebut
dengan urusan macak, masak, dan manak. Hal tersebut tidak jauh berbeda dari apa
yang Bung Karno pernah sampaikan di bukunya yang berjudul “Sarinah”, yaitu
budaya patraiarki kerap kali meletakkan posisi perempuan hanya dalam ranah
domestik saja, seperti sumur, dapur, dan kasur.

Kartini menyaksikan bagaimana perempuan yang tidak lebih beruntung dari dirinya pada kala itu hanya berkutat di rumah dan di dapur, tanpa bisa merasakan pendidikan formal dan nonformal seperti dirinya, yang memiliki privilese dalam hal kedudukan di mata sosial. Budaya patriarki
merupakan konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat berupa dominasi
laki-laki yang memandang perempuan merupakan bagian satu tingkat di bawahnya
atau subordinatnya dalam persoalan hak-hak di berbagai bidang.

Namun, keresahan Kartini tersebut mendorong Ia melakukan suatu perubahan dengan
menjalin interaksi dengan teman-teman Eropanya dan terus menulis menentang para
penjajah hingga akhirnya pemikirannya mengadopsi beberapa konsep mengenai
betapa tidak adilnya budaya patriarki serta feodalisme yang ada. Patriarki serta
feodalisme senantiasa menciptakan kotak-kotak dan kelas-kelas yang menyebabkan
perolehan hak menjadi tidak seimbang di dalam masyarakat. Kartini tidak hanya
berorientasi terhadap kaum perempuan saja, tetapi terhadap keadilan serta rakyat.

Makna Perjuangan Kartini: Menihilkan Budaya Patriarki, Feodalisme, dan
Memupuk Rasa Nasionalisme

Melalui sejarah singkat Kartini di atas, sebenarnya terdapat beberapa hal penting yang
harus digarisbawahi. Nada Mulia, selaku Wakabid Kesarinahan DPC GMNI Balikpapanmengatakan, “Perjuangan Kartinikala itu, sejalan dengan pemikiran Bung Karno yang juga dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Sarinah”, bahwa perlu adanya pemahaman yang mendalam mengenai
perbedaan hal-hal yang sifatnya kodrati dan potensi, sebab itu hal yang seringkali
menjadi salah kaprah di mata masyarakat sehingga kaum perempuan masih sering
termarjinalkan.”

Dyah Ayu yang juga Bendahara DPC GMNI Balikpapan Uniba pun turut menyampaikan
“Kartini tidak hanya membicarakan perihal kesetaraan dan pendidikan saja, melainkan turut menentang budaya patriarki yang sampai hari ini masih ada di tengah masyarakat modern, menentang budaya feodalisme, yang berisikan kelas penguasa dan nonpenguasa, serta berusaha menanamkan rasa nasionalisme yang humanis, sesuai dengan pemikiran Bung Karno, dimana rasa cinta kita terhadap negara dimulai dari rasa cinta kita terhadap sesama manusia— tidak ada lagi penjajahan yang dibenarkan, baik penjajahan bangsa di atas bangsa, ataupun manusia di atas manusia”. Perayaan Hari Kartini di tahun 2024 ini harus dimaknai secara kompehensif dan tidak
hanya sebatas perayaan seremonial dan periodik semata, melainkan harus dipahami
konsep pemikiran dan perjuangan yang dilakukannya.

Pertama, perihal budaya patriarki, budaya patriarki setidak-tidaknya harus dihilangkan
perlahan karena budaya patriarki mencoba untuk mendikotomikan kedudukan antara
laki-laki dan perempuan. Selain itu, budaya patriarki juga merupakan suatu bentuk
penindasan terhadap perempuan yang bahkan sudah ada lama jauh sebelum adanya
peradaban. Meskipun pada saat ini edukasi perihal patriarki sudah mulai meningkat
dibanding zaman-zaman sebelumnya, tetapi kita tidak boleh lengah, sebab sebuah
pemikiran tidak mudah mati, karena hidupnya di kepala manusia. Partisipasi kita
dalam menyebarkan edukasi serta melakukan pengawasan terhadap UU TPKS
misalnya, juga merupakan bentuk andil kita dalam melawan patriarki yang hidup
membudaya di masyarakat.

Kedua, begitu pula dengan feodalisme yang hari ini. Feodalisme yang dibicarakan
Kartini kini hadir dalam bentuk baru, bukan antar penjajah dengan rakyat, bukan antar
Eropa dengan Indonesia, melainkan negara dengan rakyatnya. Feodalisme yang ada
hari ini tertuang dalam gaya baru, seperti adanya ketakutan untuk mengkritik
kebijakan Pemerintah karena adanya rasa was was dan posisi yang lebih rendah, baik
dari segi akses, maupun kebijakan yang cenderung bersifat represif.

Loading

Share164SendShareSend
Tags: GMNI BalikpapanHari KartiniHeadlineSarinah
Leave Comment

Berita Terkait

Tak Terpengaruh Pemangkasan Anggaran, Pemkab Kutim Garansi TPP dan Kuota PPPK Tetap Aman

Temui Serikat Pekerja, Pemkab Kutai Timur Janji Benahi Lembaga Ketenagakerjaan Daerah

BKPSDM Bontang Andalkan Lima Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas Layanan ASN

Andi Satya Salurkan 18,3 Ton Pakan Ikan untuk 10 Pokdakan di Lempake, Wujudkan Aspirasi Masyarakat Lewat Pokir DPRD

Bimtek Portal Satu Data Jadi Langkah Kutim Tingkatkan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan

Pemkab Kutim Siapkan Lahan 8 Hektare, Infrastruktur Dasar Jadi Fokus Pembangunan Sekolah Rakyat

Kutim Perkuat Basis Data Pembangunan, Bimtek Operator Satu Data Digelar

PUPR Verifikasi Lahan Sekolah Rakyat di Kutim, Pemkab Diminta Lengkapi Infrastruktur Dasar

Tak Terpengaruh Pemangkasan Anggaran, Pemkab Kutim Garansi TPP dan Kuota PPPK Tetap Aman

28 Juli 2026

Temui Serikat Pekerja, Pemkab Kutai Timur Janji Benahi Lembaga Ketenagakerjaan Daerah

28 Juli 2026

BKPSDM Bontang Andalkan Lima Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas Layanan ASN

28 Juli 2026

Andi Satya Salurkan 18,3 Ton Pakan Ikan untuk 10 Pokdakan di Lempake, Wujudkan Aspirasi Masyarakat Lewat Pokir DPRD

28 Juli 2026

Bimtek Portal Satu Data Jadi Langkah Kutim Tingkatkan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan

20 Juli 2026

Pemkab Kutim Siapkan Lahan 8 Hektare, Infrastruktur Dasar Jadi Fokus Pembangunan Sekolah Rakyat

19 Juli 2026

Terpopuler

Tak Terpengaruh Pemangkasan Anggaran, Pemkab Kutim Garansi TPP dan Kuota PPPK Tetap Aman

Tak Terpengaruh Pemangkasan Anggaran, Pemkab Kutim Garansi TPP dan Kuota PPPK Tetap Aman

28 Juli 2026
Temui Serikat Pekerja, Pemkab Kutai Timur Janji Benahi Lembaga Ketenagakerjaan Daerah

Temui Serikat Pekerja, Pemkab Kutai Timur Janji Benahi Lembaga Ketenagakerjaan Daerah

28 Juli 2026
BKPSDM Bontang Andalkan Lima Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas Layanan ASN

BKPSDM Bontang Andalkan Lima Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas Layanan ASN

28 Juli 2026
Andi Satya Salurkan 18,3 Ton Pakan Ikan untuk 10 Pokdakan di Lempake, Wujudkan Aspirasi Masyarakat Lewat Pokir DPRD

Andi Satya Salurkan 18,3 Ton Pakan Ikan untuk 10 Pokdakan di Lempake, Wujudkan Aspirasi Masyarakat Lewat Pokir DPRD

28 Juli 2026
Bimtek Portal Satu Data Jadi Langkah Kutim Tingkatkan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan

Bimtek Portal Satu Data Jadi Langkah Kutim Tingkatkan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan

20 Juli 2026
Pemkab Kutim Siapkan Lahan 8 Hektare, Infrastruktur Dasar Jadi Fokus Pembangunan Sekolah Rakyat

Pemkab Kutim Siapkan Lahan 8 Hektare, Infrastruktur Dasar Jadi Fokus Pembangunan Sekolah Rakyat

19 Juli 2026

Topik Populer

Adv (313) Agus Haris wakil wali kota Bontang (13) Agus Haris wakil walikota Bontang (9) Ahmad Aznem (kepala DKP3 kota Bontang) (17) Andi Satya Adi Saputra (12) Anggota DPRD Kota Samarinda (9) Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda (8) Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda (14) Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda (14) Anhar (9) Asn (13) BeritaBontang (81) BKPSDM (26) Bkpsdm Bontang (57) BontangHebat (68) Deni Hakim Anwar (16) DisdikBontang (162) Diskominfo Kota Bontang (13) Diskominfo Kukar (184) Dispora Kaltim (101) DKP3 Kota Bontang (31) DPD RI (23) DPMPTSP Kota Bontang (48) DPRD Kaltim (17) DPRD Kota Samarinda (53) DPRD Samarinda (107) DPUPR Kota Bontang (12) DuniaPendidikan (13) Headline (15) Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda (10) Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda (14) Ketua Komite 1 DPD RI (11) KotaBontang (10) KPU Samarinda (9) Neni Moerniaeni Wali Kota Bontang (64) Novan Syahronie (16) Pemkot bontang (82) PendidikanBontang (162) Program Smart Tani Go to School (13) PT Pupuk Kalimantan Timur (13) Pupuk Kaltim (9) RSUD Taman Husada Bontang (101) Sdn 009 Bontang Utara (9) Sudi Priyanto kepala bkpsdm bontang (64) Toetoek Pribadi Ekowati (kepala Dinkes Bontang) (16)
Next Post

Ketua DPC Gerindra Kutai Kartanegara, resmi mengambil formulir Bakal Calon (Bacalon) Bupati dan Wakil Bupati Kukar di DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Tentang Kami     Redaksi      Pedoman Siber      Kode Etik

COPYRIGHT © 2024 POTRETKATA.CO –  ALL RIGHT RESERVED
Managed by Aydan Putra
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
    • Samarinda
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Bontang
    • Penajam Paser Utara
    • Paser
    • Kutai Barat
    • Mahulu
    • Berau
    • Balikpapan
  • Politik
  • Ekonomi
  • Advertorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kutai Kartanegara
  • Infrastruktur
  • Lainnya
    • Opini
    • Peristiwa & Kriminal

COPYRIGHT © 2024 POTRETKATA.CO -  ALL RIGHT RESERVED Managed by Aydan Putra