BONTANG – Penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) di Kota Taman dipastikan tetap berjalan pada 2026. Namun, kunci utamanya bukan sekadar kuota, melainkan keakuratan data siswa di sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bontang, Abdu Safa Muha, menegaskan validasi data di Dapodik harus benar-benar ketat agar bantuan tepat sasaran serta nantinya pusat akan sandingkan dengan data kemiskinan yang berada di Kementrian Sosial.
“Peran kami bagaimana data Dapodik itu divalidasi dengan baik. Jadi data yang disajikan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, akses PIP di Bontang terbagi dua jalur. Pertama jalur reguler dari kementerian. Kedua jalur aspirasi melalui Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian.
Untuk jalur aspirasi, koordinasi di lapangan disebut sudah berjalan rapi. Di Bontang, peran itu dipegang oleh Kusnadi.
“Untuk jalur aspirasi Ibu Hetifah, koordinatornya Pak Kusnadi. Kami biasanya menerima pemberitahuan, lalu diteruskan ke sekolah-sekolah,” ujarnya.
Sosok Kusnadi sendiri bukan orang baru. Ia dikenal juga sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bontang, sehingga dinilai punya jejaring kuat dan pengalaman dalam koordinasi lapangan.
Safa berharap sinergi dua jalur ini mampu memperluas jangkauan bantuan, sekaligus menekan angka anak putus sekolah di Bontang.
“Program ini terus berjalan tiap tahun untuk membantu siswa yang membutuhkan,” pungkasnya.(adv)
![]()







