Kukar – Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang, kian menunjukkan geliatnya dalam sektor ekonomi kreatif. Salah satu produk unggulan desa ini, yakni amplang walet, berhasil menembus pasar internasional seperti Singapura dan Thailand. Terobosan ini menjadi bukti bahwa inovasi lokal mampu bersaing di kancah global.
Produk amplang walet merupakan hasil kreasi pelaku UMKM Desa Teluk Dalam yang memadukan olahan amplang khas Kalimantan dengan bahan dasar dari sarang burung walet. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga membawa citra baru bagi produk lokal desa.
“Amplang walet ini sudah berhasil kita ekspor ke luar negeri, seperti ke Singapura dan Thailand,” ujar Kepala Desa Teluk Dalam, Supian, saat ditemui pada Rabu (02/07/2025).
Supian menjelaskan bahwa bahan baku utama produk ini bersumber dari potensi lokal. Desa Teluk Dalam sendiri dikenal memiliki populasi burung walet yang cukup besar, sehingga pemanfaatannya menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat setempat.
Meski berorientasi ekspor dan mengandung bahan bernilai tinggi, harga amplang walet tetap dijaga agar terjangkau. Saat ini, produk tersebut dipasarkan dengan harga antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kemasan ukuran 500 mililiter.
Supian mengungkapkan, program pengembangan UMKM di desanya mulai digerakkan sejak 2023, dengan pendampingan intensif dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar. Dukungan ini sangat membantu, termasuk dalam memperkenalkan produk ke luar negeri.
“Kami dipandu langsung oleh dinas, dan mereka pula yang membawa produk kita menembus pasar luar negeri,” tuturnya dengan bangga. Tak hanya fokus pada sektor UMKM, Desa Teluk Dalam juga sedang mengelola lahan sawit seluas delapan hektare di sekitar Stadion Aji Imbut.
Lahan ini merupakan hasil kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kukar dan saat ini sedang dalam tahap revitalisasi akibat kondisi pohon sawit yang sempat terbengkalai. “Kita masih dalam proses perbaikan. Belum ada hasil yang kami terima karena fokus kita masih pada pemeliharaan,” jelas Supian.
Di sisi lain, desa ini juga telah lama menjalin kerja sama penyediaan beras untuk kebutuhan karyawan rumah sakit. Kerja sama yang dimulai sejak 2020 ini masih berlangsung hingga sekarang, memberikan kontribusi ekonomi tambahan bagi petani dan pengelola hasil pertanian lokal.
Supian menegaskan bahwa semangat warga menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan program desa. Ia berharap semangat ini terus tumbuh seiring upaya membangun desa secara holistik. “Yang penting semangat warga tetap kuat dan terus mau belajar,” pungkasnya. (Adv)
![]()





