KAUBUN – Rumput Stadion Buaya Rapak, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur, kembali bergemuruh. Denyut kompetisi olahraga warga yang sempat dibayangi penyesuaian anggaran daerah, justru bergelora lebih meriah. Turnamen Sepak Bola Bumi Rapak Cup 2026 tampil menjadi panggung nyata bagaimana keterbatasan finansial dapat diubah menjadi ruang sinergi yang berdampak luas.
Tahun ini, wajah turnamen tampil berbeda sekaligus lebih bergengsi. Sebanyak 40 tim lokal ambil bagian memperebutkan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp 125 juta. Gelaran berskala lebih besar ini terlaksana penuh berkat dukungan penuh PT Indexim Coalindo, yang masuk menjadi mitra utama pemerintah desa.
Langkah kolaboratif ini menjadi titik balik penting. Pada edisi 2025 lalu, turnamen murni mengandalkan pundi-pundi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dengan partisipasi 28 tim. Ketika efisiensi anggaran membayangi pelaksanaan tahun ini, panitia bergerak cepat merangkul dunia usaha.
Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Kepala Desa Bumi Rapak sekaligus Ketua Panitia, Padil Hidayat, mengungkapkan bahwa efisiensi APBDes tidak boleh melumpuhkan pembinaan pemuda dan tradisi olahraga warga.
“Tahun lalu kegiatan ini murni melalui APBDes. Tahun ini karena ada efisiensi, kami berkoordinasi dengan PT Indexim Coalindo sehingga kegiatan tetap bisa terlaksana melalui kolaborasi,” ungkap Padil.
Hasilnya melampaui ekspektasi. Kemitraan tersebut tak sekadar menyelamatkan ajang tahunan ini dari ancaman pembatalan, tetapi justru mendongkrak antusiasme peserta. Lonjakan kepesertaan dari 28 tim menjadi 40 tim membuktikan betapa dahsyatnya dampak sinergi yang dibangun.
Komitmen Sektor Swasta di Wilayah Ring Satu
Langkah Pemdes Bumi Rapak disambut hangat oleh manajemen PT Indexim Coalindo. Sebagai perusahaan yang beroperasi di wilayah ring satu, keterlibatan dalam ajang ini dipandang sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang relevan dan menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat.
Direktur Operasional PT Indexim Coalindo, Anderson Khwan, menegaskan bahwa nilai utama dari turnamen ini melampaui sekadar urusan si kulit bundar.
“Kami percaya kegiatan ini bukan hanya pertandingan sepak bola, tetapi juga menjadi ajang mempererat silaturahmi masyarakat. Kami siap mendukung kegiatan-kegiatan berikutnya,” ujar Anderson.
Ia menambahkan, hubungan harmonis antara korporasi, pemerintah desa, dan warga adalah fondasi utama agar program-program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan berkelanjutan dan memberi dampak jangka panjang.
Apresiasi Pemkab Kutim: Model Gotong Royong Masa Depan
Sinergi apik di tingkat akar rumput ini mendapat sorotan positif dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menilai pola kemitraan strategis antara desa dan swasta seperti ini patut direplikasi di wilayah lain.
“Kalau perusahaan dan pemerintah bisa bergotong royong seperti ini, masyarakat yang akan menikmati manfaatnya. Ke depan saya berharap perusahaan-perusahaan lainnya juga ikut berpartisipasi sehingga kegiatan seperti ini semakin besar,” tutur Mahyunadi.
Menurut Mahyunadi, keterlibatan aktif sektor swasta merupakan instrumen penting dalam mengakselerasi pembangunan daerah—khususnya pada sektor kepemudaan, pengembangan olahraga, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif. Bumi Rapak Cup 2026 pun bukan lagi sekadar turnamen antarklub lokal, melainkan cermin keberhasilan gotong royong modern di tanah Kutai Timur.(adv)
![]()







