Potretkata, Bontang – Gangguan mental di kalangan remaja kian marak, memicu kekhawatiran akan masa depan generasi muda. Kondisi ini bisa muncul dari berbagai tekanan, baik dari lingkungan sekolah, pergaulan, maupun keluarga.
Dokter Psikiater Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc, Sp.KJ, menegaskan bahwa deteksi dini sangat penting agar remaja bisa segera mendapat pertolongan.
“Orang tua dan guru harus peka terhadap tanda-tanda gangguan mental pada remaja. Biasanya, ada perubahan perilaku yang mencolok,” kata dr. Dewi, Senin (24/2/2025).
Ia menjelaskan, beberapa ciri umum remaja yang mengalami gangguan mental meliputi perubahan suasana hati yang ekstrem, menjadi pendiam padahal sebelumnya periang, serta kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya mereka sukai.
“Misalnya, anak yang tadinya rajin sekolah jadi sering bolos, malas mengerjakan tugas, dan lebih banyak mengurung diri di kamar. Itu tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
Gejala lainnya termasuk remaja yang tiba-tiba sering emosi, mudah tersinggung, atau bahkan agresif. Ada pula yang terlihat gelisah, cemas berlebihan, hingga menunjukkan perilaku impulsif seperti sering keluar rumah tanpa alasan jelas.
Menurut dr. Dewi, salah satu penyebab utama gangguan mental ini adalah pola asuh di rumah. Orang tua yang terlalu keras, otoriter, atau kurang mendukung secara emosional bisa memicu depresi pada anak.
“Kalau di rumah ada tekanan terus-menerus, misalnya anak sedikit-sedikit disalahkan atau bahkan dimarahi sampai main tangan, itu akan berdampak pada kondisi psikologis mereka,” jelasnya.
Untuk itu, dr. Dewi mengingatkan pentingnya membangun komunikasi terbuka dalam keluarga. Memberikan ruang bagi anak untuk bercerita, mendukung mereka secara emosional, dan menunjukkan rasa peduli menjadi langkah awal pencegahan gangguan mental.
Jika gejala gangguan mental sudah muncul, ia menyarankan agar remaja segera dibawa ke psikiater untuk mendapatkan penanganan. Proses ini melibatkan terapi obat dan psikoterapi agar remaja bisa mengatasi stres dan tekanan mental dengan lebih baik.
“Psikoterapi membantu remaja mengembangkan keterampilan menghadapi masalah, jadi mereka tidak mudah putus asa atau tenggelam dalam tekanan,” katanya.
Ia berharap masyarakat, terutama orang tua dan guru, lebih aktif memantau kondisi mental remaja. Dukungan emosional yang kuat bisa menjadi benteng utama agar mereka terhindar dari gangguan mental.
“Jangan abaikan jika ada perubahan drastis pada anak. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” pungkas dokter spesialis kejiwaan tersebut. (Adv/Ira)
![]()







