SANGATTA — Deru alat berat yang bertahun-tahun merajai perut bumi Sangatta kini telah mereda. Di kawasan eks tambang Pit J PT Kaltim Prima Coal (KPC), Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, hamparan tanah yang dahulu identik dengan pengerukan mineral perlahan bertransformasi. Bentangan lahan pascatambang itu kini berwajah hijau, bersalin rupa menjadi kawasan pertanian jagung produktif yang menjanjikan napas baru bagi ketahanan pangan daerah.
Wajah baru tanah reklamasi tersebut kian menemukan bentuknya setelah Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur turun tangan. Melalui penyerahan bantuan sosial dan alat mesin pertanian (alsintan) dari Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro, denyut produktivitas di lahan eks tambang ini mendapat suntikan tenaga baru.
Bantuan tersebut disalurkan kepada empat kelompok tani (poktan) yang menjadi motor penggerak di lapangan, yakni Poktan Bakutor, Poktan Karya Etam Bersama 3, Poktan Prima Tani (Tani Prima), dan Poktan Prima Mandiri. Kehadiran mereka di kawasan ini membuktikan bahwa siklus hidup tanah tidak serta-merta mati setelah aktivitas pengerukan batubara rampung.
Akselerasi Lewat Mekanisasi Pertanian
Di tengah berbagai tantangan geografis dan struktur tanah pascatambang, intervensi teknologi menjadi kunci utama. Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Bohari, menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah dalam mengawal pemanfaatan bantuan tersebut agar berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Pihak dinas, khususnya Bidang Prasarana DTPHP, memberikan dukungan penuh terhadap program ini dan berkomitmen untuk terus mengawal pemanfaatan sarana pertanian pasca-penyerahan oleh Kapolda Kaltim. Kehadiran alsintan berupa cultivator dan alat tanam dorong (planter manual) ini sangat kami dukung demi memastikan transformasi eks lahan tambang menjadi kawasan produktif yang efektif dan berkelanjutan,” ujar Bohari.
Paket bantuan yang digelontorkan tidak sekadar menyasar aspek teknis produksi, melainkan menyentuh kesejahteraan petani. Sebanyak 50 paket sembako diserahkan bersamaan dengan alsintan untuk menyokong dapur para petani yang tengah berjuang merawat ketahanan pangan di tingkat desa.
Bagi para petani, kehadiran sarana produksi modern ini membawa arti emosional yang mendalam. Ketua Poktan Bakutor, Saul Lebang, mengungkapkan bahwa uluran tangan tersebut mendongkrak moril para petani secara signifikan setelah sukses meraup 19 ton jagung pipil pada panen tahap pertama.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolda Kaltim. Bantuan paket sembako dan alsintan ini betul-betul nyata membantu meningkatkan semangat kerja kami. Dengan dukungan prasarana yang ada serta pengawalan dari Dinas Pertanian, kami sangat optimis hasil panen jagung pipil pada tahap kedua nanti bisa melonjak hingga mencapai target 30 ton,” kata Saul.
Gotong Royong Menuju Panen Raya September 2026
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Swarga Bara, Rudiana Jaya, merinci bahwa alsintan anyar itu langsung diterjunkan untuk mengelola lahan siap tanam seluas 14,8 hektare, dari total target pengembangan kawasan seluas 19,8 hektare.
Lahan ini dikelola secara kolektif dan penuh kekeluargaan oleh para petani dari Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara. Semangat gotong royong menjadi modal sosial yang merekatkan kerja-kerja agraris di atas tanah industri.
“Bantuan mekanisasi pertanian dari Kapolda Kaltim ini sangat tepat waktu dan langsung kami operasikan dengan dukungan teknis dari dinas. Minggu ini kami fokus melakukan pembersihan dan penyemrotan herbisida. Dengan adanya alat tanam dorong baru ini, metode tanam bersama secara bergiliran (koyok) antar-kelompok akan menjadi jauh lebih cepat demi mengejar target panen raya serentak pada September 2026 mendatang,” tutur Rudiana.
Rangkaian program ini ditutup dengan penanaman benih jagung secara simbolis. Lebih dari sekadar menanam bulir-bulir jagung ke dalam tanah, hari itu para petani dan aparat menanam sebuah keyakinan: bahwa pemulihan lingkungan dan pemenuhan ekonomi kerakyatan dapat berjalan di atas jalur yang sama.
Kolaborasi lintas sektor antara Polda Kaltim, Pemkab Kutim, korporasi tambang, dan kelompok tani telah merajut babak baru di tanah Sangatta. Ketika lahan yang dahulu menghasilkan mineral kini beralih rupa menjadi produsen pangan, pesan yang disampaikan jauh melampaui batas-batas administratif Kutai Timur—bahwa bumi pascatambang pun, di tangan yang tepat, sanggup merawat kehidupan.(adv)
![]()







