SANGATTA — Di bawah terik matahari Sangatta, keringat para relawan pemenuhan gizi masyarakat kerap luput dari sorotan. Mereka adalah penggerak di garis depan, memastikan asupan gizi anak-anak dan warga tersalurkan dengan baik. Namun, di balik misi sosial tersebut, pertanyaan mendasar kerap membayangi: siapa yang menjamin kesehatan mereka saat jatuh sakit?.
Pertanyaan itu kini menemukan jawabannya. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) Cabang Kutai Timur mengambil langkah progresif dengan merajut asa baru bagi para pejuang sosial di wilayah tersebut.
Bertempat di Meeting Room Hotel Zenova Royale, Sangatta, sebuah penandatanganan Perjanjian Teknis Operasional (PTO) resmi diteken. Langkah ini menjadi tonggak sejarah perlindungan sosial bagi empat yayasan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG): Yayasan Kamala Bhayangkari, Yayasan Kutai Timur Berdikari, Yayasan Swara Mandiri Ummat, dan Yayasan Cerdas Pangan.
Skema Kolektif untuk Ketenangan Bekerja
Melalui skema Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) Kolektif, para tenaga relawan kini mengantongi payung hukum jaminan kesehatan yang jelas dan terorganisir. Pengelolaan kepesertaan ini dikoordinasikan langsung melalui institusi yayasan masing-masing, menciptakan efisiensi sekaligus kepastian akses layanan kesehatan.
Kepala BPJS Kesehatan Kutim, Herman Prayudi, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar urusan administratif belaka, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap dedikasi para relawan.
“Kerja sama ini adalah wujud dukungan bagi keberlangsungan program pelayanan masyarakat. Tenaga relawan yang aktif dalam kegiatan sosial dan pemenuhan gizi harus memiliki perlindungan agar mereka bisa bekerja dengan lebih tenang dan optimal,” ujar Herman.
Bagi para pengelola yayasan, kehadiran program ini disambut dengan kelegaan. Selama ini, risiko kesehatan di lapangan menjadi beban mental tersendiri bagi para relawan yang mendedikasikan waktu dan tenaga tanpa pamrih. Jaminan kesehatan dipandang sebagai bentuk pengakuan nyata atas peran penting mereka dalam memperbaiki kualitas gizi di Kutai Timur.
Investasi Sosial untuk Masa Depan Kutim
Langkah strategis ini menandai pergeseran penting cara pandang terhadap pekerja sosial di tingkat akar rumput. Dengan terlindunginya kesehatan para tenaga lapangan, roda program pemenuhan gizi di Kabupaten Kutai Timur diyakini akan berputar jauh lebih stabil dan berkelanjutan.
Sebab, di balik keberhasilan setiap program sosial yang menyentuh masyarakat luas, selalu ada manusia-manusia tangguh yang kesejahteraannya harus tetap dijaga. Penandatanganan ini ditutup dengan sebuah komitmen bersama: memastikan bahwa garda terdepan pembangunan kesehatan dan gizi di Kutim tidak lagi berjalan seorang diri tanpa jaring pengaman sosial.(adv)
![]()







