KALIORANG — Di antara rimbun hutan Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang, berdiri megah sebuah fenomena alam yang belum banyak tersentuh manusia. Air Terjun Tangga Bidadari bukan sekadar objek wisata baru, tapi juga menyimpan kisah lama yang melegenda di tengah masyarakat.
Nama air terjun itu bukan diberikan sembarangan. Struktur batuan karstnya membentuk susunan seperti anak tangga, menanjak dari dasar hingga ke puncak tebing. Bagi warga lokal, tempat ini dipercaya sebagai jalan turun para bidadari. Imajinasi dan realitas bertemu di lokasi ini, membentuk aura mistis yang justru menjadi daya tarik.
Kejernihan aliran air, keteduhan pepohonan, dan kabut tipis yang menyelubungi lokasi menciptakan suasana alami yang nyaris tak tersentuh zaman. Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi pun mengakui pesonanya saat berkunjung dalam rangkaian kerja di Kaliorang.
“Destinasi ini sangat unik. Kita perlu membuka akses jalan yang lebih baik dan memperbanyak fasilitas penunjang agar wisatawan lebih nyaman dan tertarik berkunjung,” ujarnya.
Pemerintah daerah sudah bergerak cepat. Fasilitas dasar dan cottage telah mulai dibangun. Hanya berjarak 50 meter dari lokasi utama, pengunjung kini bisa lebih mudah mengakses lokasi, menikmati gemericik air, dan menapaki batu-batu alami yang tidak licin meski dialiri air.
Namun Mahyunadi juga menyadari tantangan besar di depan mata. Jalan menuju lokasi masih butuh perbaikan serius. Saat ini hanya bisa dilalui kendaraan khusus. Meski begitu, potensi yang dimiliki Tangga Bidadari tidak diragukan lagi.
Dengan kombinasi antara kekuatan narasi lokal dan pesona alam tropis, air terjun ini bukan hanya destinasi, tapi juga aset budaya dan spiritual Kutai Timur. Tangga Bidadari tengah disiapkan menjadi gerbang baru bagi wisata mistis-ekologis Kalimantan Timur.* (ADV/ProkopimKutim/PK)
![]()







