BONTANG – Upaya deteksi dini penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar terus dibahas. Namun, metode tes urin mendadak di sekolah dinilai belum tentu menjadi solusi paling efektif.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengungkapkan bahwa pendekatan tersebut memiliki sejumlah risiko jika diterapkan tanpa pertimbangan matang.
Menurutnya, tes urin secara tiba-tiba berpotensi menimbulkan dampak sosial di lingkungan sekolah, terutama bagi siswa.
“Deteksi dini memang penting, tapi caranya juga harus tepat. Jangan sampai justru menimbulkan masalah baru,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan tes urin secara terbuka bisa memicu stigma di antara pelajar. Bahkan, kondisi tersebut dikhawatirkan memunculkan rasa saling curiga hingga berujung pada perundungan.
Selain itu, pendekatan yang terlalu represif dinilai kurang sejalan dengan prinsip pembinaan di dunia pendidikan yang mengedepankan aspek psikologis anak.
Karena itu, Disdikbud lebih memilih memperkuat langkah pencegahan melalui jalur edukatif, seperti sosialisasi kepada orang tua serta penguatan peran guru bimbingan konseling (BK).
Guru BK dinilai lebih efektif dalam mengenali perubahan perilaku siswa secara bertahap dan tertutup, tanpa menimbulkan tekanan.
Di sisi lain, kerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Bontang juga terus dilakukan, khususnya dalam penanganan jika ditemukan indikasi penyalahgunaan.
“Kalau ada indikasi, penanganannya tetap dilakukan secara tertutup. Itu penting untuk menjaga kondisi anak,” tegasnya.
Disdikbud menegaskan, langkah pencegahan akan tetap difokuskan pada pendekatan yang humanis dan ramah anak.
“Agar lingkungan sekolah tetap aman sekaligus efektif dalam menekan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar,” pungkannya.(adv)
![]()







