SANGATTA – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kutai Timur (Kutim) kembali menggelar Lomba Sanga Belida 2025 sebagai strategi mendorong peningkatan Indeks Inovasi Daerah yang selama beberapa tahun terakhir menjadi perhatian pemerintah pusat. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menghasilkan gagasan baru dari perangkat daerah, kecamatan, maupun masyarakat.
Analis Pemanfaatan IPTEK Brida Kutim, Edi Supriyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini pertama kali diadakan karena rendahnya indeks inovasi Kutim pada periode sebelumnya. Kini Sanga Belida menjadi agenda strategis untuk menggenjot penilaian secara nasional. “Awalnya indeks inovasi kita memang masih rendah. Dengan adanya lomba ini, kami berharap nilainya bisa terus meningkat,” ujarnya.
Tahun ini jumlah peserta mencapai lima inovator dari kecamatan serta perangkat daerah. Proses penjurian melibatkan STIENUS, STIPER Kutim, dan SMKN 2 Kutim. Peneliti Brida, Bagus Rai Wibowo, menyampaikan bahwa fokus utama lomba 2025 adalah inovasi pelayanan publik yang berdampak langsung pada masyarakat. “Tahun ini kami fokus pada pelayanan publik karena manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa kategori inovasi meliputi tata kelola, pelayanan publik, dan penerapan teknologi. Ketiganya diharapkan mendorong pembaruan birokrasi dan peningkatan mutu layanan.
Dalam dua tahun terakhir, Kutim naik dari kategori “kurang inovatif” menjadi “kabupaten inovatif” dengan nilai 48,88. Bagus optimistis capaian ini terus meningkat. “Untuk bisa mendapat predikat sangat inovatif dan berhak atas insentif fiskal, skor minimal yang harus dicapai adalah 65,00,” jelasnya.
Melalui Sanga Belida, Brida Kutim berharap budaya inovasi mengakar kuat dan membawa daerah ini naik kelas pada pemeringkatan nasional.* (ADV/ProkopimKutim/PK)
![]()







