Potretkata, Bontang – Penanganan gangguan kecemasan bukan hanya soal pemberian obat, tetapi juga memerlukan pemantauan rutin dan terapi berkelanjutan. Hal ini disampaikan oleh dr. Dewi Maharni, M.Sc, Sp.KJ, psikiater RSUD Taman Husada Bontang, yang menegaskan pentingnya kontrol berkala bagi pasien.
Menurut dr. Dewi, setiap pasien kecemasan menjalani psikoterapi untuk memahami akar permasalahan mereka.
“Kami tidak langsung memberikan obat. Pertama-tama, kami akan menggali dulu apa yang membuat mereka cemas. Setelah itu, baru kami susun rencana terapi yang sesuai,” jelasnya, Senin (24/2/2025).
Namun, perjalanan menuju kesembuhan tidak selesai dalam satu kali kunjungan. Setiap kali kontrol, dokter akan mengevaluasi apakah pasien sudah mampu mengatur emosinya dan menghadapi masalah baru tanpa terpancing stres berlebih.
“Di setiap kunjungan, kami periksa lagi bagaimana perkembangan mereka. Apakah sudah bisa mengendalikan emosi saat muncul masalah baru? Apakah mereka masih mudah marah atau sudah mampu mencari solusi?” tutur dr. Dewi.
Ia menegaskan, meski seorang pasien tampak membaik, bukan berarti mereka sepenuhnya lepas dari kecemasan. Situasi tertentu bisa memicu stres kembali, sehingga mereka dianjurkan untuk tetap melakukan kontrol jika gejalanya kambuh.
“Kadang ada yang terlihat sembuh, tetapi ketika dihadapkan pada masalah baru, kecemasan mereka muncul lagi. Karena itu, kontrol rutin sangat penting untuk mencegah kekambuhan,” lanjutnya.
RSUD Taman Husada Bontang juga memastikan semua proses pengobatan ini bisa diakses secara luas. Biaya konsultasi dan pengobatan, termasuk pemberian obat jika diperlukan, sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Pasien hanya perlu membawa rujukan dari puskesmas atau klinik.
Kata dia, dengan pendekatan psikoterapi yang intensif dan dukungan evaluasi rutin, diharapkan pasien dengan gangguan kecemasan bisa pulih secara bertahap dan menemukan cara terbaik untuk mengelola stres mereka. (Adv/Ira)
![]()







