SANGATTA – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mengendalikan inflasi kembali diperkuat melalui program Pasar Murah yang terus dijalankan sejak tahun 2022. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim memastikan program ini tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, terutama di wilayah yang rawan lonjakan biaya angkut.
Pengawas Perdagangan Dalam Negeri Ahli Muda Disperindag Kutim, Ahmad Doni Erfiyadi, menjelaskan bahwa kegiatan pasar murah merupakan tindak lanjut instruksi Presiden melalui Gubernur Kaltim kepada seluruh kepala daerah. “Pasar murah ini sudah kami laksanakan sejak 2022 bersama Kabid Bapak Erwin. Tujuannya agar masyarakat di kecamatan juga bisa mendapatkan harga bahan pokok yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Tujuh komoditas strategis disediakan melalui program ini, yaitu beras, gula, minyak goreng, mi instan, sarden, teh, dan susu kental manis. Seluruh produk dipilih sesuai pola konsumsi masyarakat Kutim yang umumnya menggunakan produk premium. “Kami melihat masyarakat Kutim cenderung memilih produk premium seperti beras Mbok Darmi, minyak goreng Bimoli atau Fit, serta gula kemasan seperti Gula Fit dan Gulaku. Maka itu, produk yang kami sediakan juga menyesuaikan kebutuhan dan selera masyarakat,” lanjut Doni.
Dengan mekanisme subsidi, masyarakat cukup membayar Rp100.000 untuk satu paket sembako senilai Rp300.000, sehingga membantu menahan tekanan inflasi di level rumah tangga. Namun pada 2025, keterbatasan anggaran membuat pasar murah hanya dapat digelar satu kali.
Doni memastikan penyaluran dilakukan melalui kecamatan untuk memprioritaskan keluarga terdampak stunting dan masyarakat tidak mampu. “Kupon kami serahkan ke kecamatan karena mereka yang tahu data stunting dan masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Disperindag Kutim berharap program ini kembali berjalan dua kali pada 2026 agar dampaknya terhadap inflasi dan kesejahteraan masyarakat semakin optimal.* (ADV/ProkopimKutim/PK)
![]()







