SANDARAN,— Suasana khidmat nan meriah menyelimuti Desa Marukangan, Kecamatan Sandaran, Kutai Timur (Kutim). Di tengah riuh pelaksanaan ritual adat Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas, ratusan warga yang hadir tak hanya disuguhi kelestarian tradisi, tetapi juga membawa pulang kabar gembira.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa penantian panjang masyarakat Sandaran akan pemenuhan kebutuhan dasar—khususnya akses listrik dan air bersih—akan segera berbuah manis dalam waktu dekat.
Terang Listrik yang Kian Dekat
Persoalan kelistrikan yang selama ini terkendala hambatan administratif kini resmi menemui jalan keluar. Ardiansyah membeberkan bahwa wilayah usaha yang sempat tertahan telah rampung diselesaikan.
Melalui skema dukungan pasokan daya (excess power) dari PT BMA yang dikolaborasikan secara intensif bersama PLN, sebanyak 32 titik infrastruktur kelistrikan ditargetkan siap beroperasi dan menerangi kawasan tersebut tahun ini.
“Banyak tiang-tiang listrik yang sudah terpasang. Tinggal beberapa jalur lagi yang akan terpasangi dan tiangnya tinggal menyambung. Mudah-mudahan dalam waktu dekat Desa Marukangan juga sudah tidak lagi gelap,” ungkap Ardiansyah yang disambut sorak antusias warga.
Meski begitu, Bupati mengimbau warga untuk bersikap kooperatif. Jika kelak petugas PLN perlu melakukan pemangkasan pohon di sekitar jalur kabel demi keamanan aliran listrik, warga diharapkan dapat merelakannya. Ia menekankan, pembersihan jalur ini murni demi keselamatan bersama dan tidak menggunakan skema ganti rugi tanam tumbuh.
Akses Air Bersih Mulai Dirumuskan
Tak berhenti di sektor kelistrikan, Pemkab Kutim juga bergerak cepat menuntaskan ketersediaan air bersih. Memanfaatkan keberadaan embung yang sudah ada di wilayah Sandaran, Bupati langsung menginstruksikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk merumuskan teknis penyalurannya hingga ke dapur rumah-rumah warga.
Alarm Keras Peredaran Narkoba
Di balik kabar gembira pembenahan infrastruktur, Ardiansyah menyempatkan diri menyuarakan perhatian seriusnya terhadap ancaman bahaya narkoba yang kian mengintai wilayah Kutim.
Gambaran memprihatinkan ia paparkan terkait kondisi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bontang. Dari kapasitas yang kian padat menampung hampir 2.000 narapidana, sekitar 60 persen di antaranya merupakan warga Kutim, dan separuh dari angka tersebut terjerat kasus peredaran maupun penyalahgunaan barang haram.
Melihat fakta ini, Ardiansyah meminta kepala desa, aparat keamanan, hingga manajemen perusahaan perkebunan swasta di sekitar wilayah operasional untuk tidak lengah. Pengawasan berkala terhadap para pekerja harus ditingkatkan. Bahkan, ia memberi lampu hijau untuk pelaksanaan tes urine mendadak di tingkat desa.
“Kita berharap perusahaan selalu melakukan monitoring terhadap para pekerja kebunnya, baik manajemen, karyawan tetap, maupun tenaga lapangan. Narkoba ini tidak hanya merusak kesehatan dan kejiwaan, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial kemasyarakatan,” tegasnya penuh peringatan.
Sinergi di Tengah Keterbatasan
Menutup arahannya, Bupati mengibaratkan kondisi anggaran daerah saat ini sedang mengalami fase “terjun tiruk” atau keterbatasan yang cukup menantang.
Namun demikian, keterbatasan anggaran tak menyurutkan semangat pemerintah untuk mengayomi warga. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, termasuk sektor swasta, yang terus bergandengan tangan menopang pembiayaan pembangunan sekaligus menjaga nyala kelestarian tradisi adat dan budaya Kutai di tanah Marukangan.(ADV/prokopim/Kutim)
![]()







