Sangatta – Sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit sekian lama menjadi ‘wajah utama’ perekonomian Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Namun, di balik kerukan tambang dan hamparan sawit, ada potensi bahari melimpah yang belum tergarap optimal. Di saat yang sama, masyarakat nelayan kecil di wilayah pesisir masih harus bertarung dengan keterbatasan kapasitas dan keterasingan teknologi.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mencoba merespons ketimpangan tersebut lewat program penguatan kapasitas nelayan kecil di Sangatta. Langkah ini diarahkan untuk membekali nelayan tradisional dengan kemampuan manajerial, pemahaman tata kelola usaha, hingga adaptasi teknologi ramah lingkungan.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, tak menampik bahwa sektor ekstraktif selama ini mendominasi dan menjadi barometer pembangunan daerah. Namun, ia menekankan pentingnya memberi perhatian lebih pada sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan ketahanan pangan lokal, salah satunya perikanan tangkap.
“Pertambangan dan perkebunan memang jadi ikon kita di Kutai Timur. Namun, masih ada tiga potensi yang belum optimal kita kembangkan, di antaranya beternak sapi, pertanian, dan melaut. Untuk itu, kita perlu meng-upgrade kemampuan sumber daya manusia di bidang kelautan, terutama saudara-saudara kita para nelayan,” kata Ardiansyah saat membuka kegiatan sosialisasi di Hotel Royal Victoria, Sangatta.
Menembus Keterbatasan, Mengadopsi Teknologi
Mengubah pola pikir nelayan kecil dari sekadar ‘bertahan hidup’ menjadi pelaku usaha bahari yang mandiri dan berkelanjutan bukan perkara mudah. Kepala Dinas Perikanan Kutai Timur, Yuliansyah, menyampaikan bahwa program pemberdayaan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil di lapangan—mulai dari rendahnya standardisasi kualitas hasil tangkapan hingga minimnya akses teknologi tepat guna.
Menurut Yuliansyah, wilayah pesisir Kutim menyimpan kekayaan laut yang sangat besar. Namun, tanpa keahlian manajerial dan tata kelola yang ramah lingkungan, potensi itu akan menguap begitu saja atau justru rusak oleh praktik penangkapan yang destruktif.
“Tujuan utama kami adalah mendorong terbentuknya kelompok nelayan yang tidak hanya mandiri dan sejahtera, tetapi juga mampu mengadopsi teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan,”ujar Yuliansyah.
Di ruang diskusi, para nelayan yang hadir tampak melontarkan berbagai persoalan yang selama ini menghambat daya saing mereka: sulitnya menjaga kesegaran ikan tanpa rantai dingin yang memadai, tingginya biaya operasional melaut, hingga keterbatasan akses pasar.
Bagi Kutai Timur, transformasi di sektor kelautan ini bukan sebatas menggugurkan kewajiban program kerja dinas. Di tengah wacana transisi energi dan masa depan ekonomi pascamenangani tambang, memperkuat kapasitas nelayan kecil adalah investasi jangka panjang untuk memastikan masyarakat pesisir mampu berdikari di lautnya sendiri.(adv)
![]()







