SANGATTA — Sebanyak lima kader dilibatkan dalam operasional Dapur Stunting Desa Singa Gembara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Program tersebut menjadi salah satu inovasi yang diunggulkan desa dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S) 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala Desa Singa Gembara Hamriani Kassa memaparkan program tersebut dalam pertemuan daring menggunakan Zoom Meeting dari Ruang Rapat Kantor Diskominfo Staper Kutim, belum lama ini. Pemaparan disaksikan dan dinilai langsung oleh tim penilai Pemerintah Provinsi Kaltim.
Hamriani menjelaskan, lima kader memiliki tugas dalam pengelolaan Dapur Stunting, mulai dari pengolahan bahan makanan hingga pendistribusian kepada warga sasaran. Makanan tambahan diantarkan langsung ke rumah agar bantuan diterima dan dikonsumsi sesuai peruntukan.
Menu harian disusun berdasarkan pedoman ahli gizi Puskesmas Teluk Lingga. Bahan makanan juga memanfaatkan potensi lokal, termasuk hasil Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan kegiatan Dasawisma.
“Inovasi Dapur Stunting kami lahir dari semangat bersama untuk memberikan penanganan gizi yang komprehensif. Melalui wadah ini, kami tidak hanya memasak makanan tambahan, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar terjadi perubahan pola asuh gizi di tingkat keluarga,” ujar Hamriani.
Pembentukan program diawali melalui musyawarah tingkat dusun dan RT dengan melibatkan BPD, pengurus RT, dan tokoh masyarakat. Pemerintah desa kemudian menerbitkan SK Penunjukan Pengelola Dapur Stunting untuk memberikan dasar hukum dalam pelaksanaan program.
Selain kader dan pemerintah desa, pelaksanaan program mendapat dukungan dunia usaha. PT Pama Persada Nusantara dan PT United Tractors turut memberikan dukungan melalui program CSR, khususnya untuk Pemberian Makanan Tambahan di Posyandu.
Intervensi penanganan stunting juga didukung APBDes 2025 dan 2026 pada bidang kesehatan dan pendidikan. Desa mengalokasikan Dana RT sebesar Rp250 juta per tahun, dengan minimal 1 persen diarahkan bagi RT yang memiliki warga sasaran stunting.
Dari pelaksanaan berbagai program tersebut, prevalensi stunting Singa Gembara turun dari 26,45 persen pada Juli menjadi 16,69 persen pada akhir Desember.
“Kami optimis dan berkomitmen penuh untuk terus melanjutkan intervensi konvergensi P3S secara berkesinambungan hingga mewujudkan target zero stunting di Desa Singa Gembara pada 2027 mendatang,” tutur Hamriani.(ADV/prokopim/Kutim)
![]()







