SANGATTA — Penanganan anak berisiko stunting di Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Rumah Rehab Gizi Stunting yang dikembangkan pemerintah tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga melibatkan tenaga profesional untuk memantau kondisi gizi, tumbuh kembang hingga aspek psikologis anak.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati mengatakan pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya daerah mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029.
“Pembentukan Rumah Rehab Gizi Stunting menjadi bagian dari upaya daerah mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029,” ujar Yuwana.
Program ini dilaksanakan di Kecamatan Sangatta Utara dan menjadi pilot project yang nantinya dapat dikembangkan ke wilayah lain. Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyampaikan hal tersebut usai membuka Karnaval Anak TK di halaman Kantor Camat Sangatta Utara, Selasa (18/8/2026).
“Rumah rehab stunting ini merupakan pilot proyek bagi Kabupaten Kutai Timur,” kata Mahyunadi.
Dalam program tersebut, anak tidak hanya menjalani intervensi gizi. Pemerintah juga melibatkan dr. Meita Togas selaku dokter spesialis tumbuh kembang anak, dr. Murni sebagai dokter spesialis gizi klinik, serta psikolog.
Camat Sangatta Utara Hasdiah menjelaskan keterlibatan berbagai tenaga profesional diperlukan agar penanganan tidak berhenti pada persoalan berat dan tinggi badan.
“Tujuan kita sederhana, bagaimana anak-anak yang berisiko stunting ini bisa kita bantu supaya pertumbuhannya lebih baik. Jadi bukan hanya diberi makanan, tetapi kita lihat juga gizinya, pertumbuhannya dan bagaimana pendampingan kepada orang tuanya,” ujarnya.
Orang tua juga diberikan pemahaman mengenai pola makan dan pengasuhan. Pendampingan tersebut diharapkan membuat keluarga dapat melanjutkan pola yang diterapkan selama anak mengikuti program.
Di sisi lain, intervensi dilakukan secara aktif. Apabila orang tua tidak dapat membawa anak ke lokasi, tim kecamatan akan melakukan penjemputan.
“Kalau orang tua tidak datang membawa anaknya, maka anak tersebut dijemput oleh tim kecamatan,” ujar Mahyunadi.
Saat ini, satu siklus program mampu menangani sekitar 20 anak. Dengan lima siklus dalam setahun, kapasitas awal mencapai sekitar 100 anak. Sementara jumlah keluarga berisiko stunting di Sangatta Utara mencapai 542 KRS.(ADV/prokopim/Kutim)
![]()







