Potretkata, Bontang – Memahami perbedaan antara psikiater dan psikolog menjadi langkah awal penting bagi masyarakat untuk mendapatkan penanganan kesehatan mental yang sesuai. Hal ini disampaikan Psikiater RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc, Sp.KJ, di tengah upayanya mengedukasi masyarakat terkait pentingnya kesadaran mental.
dr. Dewi menjelaskan bahwa perbedaan paling mendasar antara psikiater dan psikolog terletak pada latar belakang pendidikan.
“Psikiater adalah dokter spesialis kedokteran jiwa, artinya mereka menempuh pendidikan kedokteran umum sebelum mengambil spesialisasi di bidang kejiwaan. Sementara psikolog berasal dari Fakultas Psikologi dan melanjutkan pendidikan profesi untuk menjadi psikolog,” terangnya belum lama ini.
Kewenangan keduanya pun berbeda. Psikiater memiliki hak untuk memberikan resep obat-obatan seperti antidepresan atau antipsikotik bagi pasien dengan gangguan mental berat. Di sisi lain, psikolog lebih berfokus pada terapi psikologis, memberikan latihan sugesti, pola pikir positif, serta saran pola hidup sehat.
Dalam praktiknya, psikolog sering menangani masalah mental seperti stres, trauma, atau kecemasan ringan. Namun, jika ditemukan tanda-tanda gangguan serius seperti depresi berat atau skizofrenia, psikolog akan merujuk pasien ke psikiater.
dr. Dewi juga menekankan bahwa kebingungan masyarakat sering kali menyebabkan keterlambatan penanganan.
“Ada pasien yang sudah menunjukkan gejala bipolar, tapi mereka hanya konsultasi ke psikolog dan berharap cukup dengan terapi saja. Padahal, kasus seperti itu perlu obat-obatan tertentu,” ujarnya.
Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat Bontang semakin sadar pentingnya memahami peran psikiater dan psikolog. “Keduanya saling melengkapi, jadi jangan ragu untuk bertanya dan mencari bantuan profesional,” pungkas dia. (Adv/Ira)
![]()







