Potretkata, Bontang – Baby blues syndrome dan depresi postpartum menjadi gangguan mental yang kerap diabaikan oleh masyarakat, terutama bagi ibu baru. Dokter Psikiater RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc, Sp.KJ, mengingatkan pentingnya mengenali gejala kedua kondisi tersebut agar bisa segera ditangani.
Menurut dr. Dewi, baby blues adalah kondisi mental yang umum dialami ibu setelah melahirkan. Biasanya, gejalanya meliputi suasana hati yang mudah berubah, menangis tanpa alasan, cemas berlebih, hingga sulit tidur.
“Baby blues biasanya muncul 2-3 hari setelah melahirkan dan bisa berlangsung hingga dua minggu. Ibu merasa emosinya naik turun, kadang sedih, tapi kemudian membaik sendiri. Ini wajar, namun tetap perlu diawasi,” jelasnya, Senin (24/2/2025).
Namun, ia memperingatkan bahwa bila perasaan sedih, putus asa, dan hilangnya minat terhadap bayi terus berlanjut lebih dari dua minggu, itu bisa jadi tanda depresi postpartum. Kata dia, depresi postpartum jauh lebih serius.
“Ibu bisa merasa tidak berharga, sulit merawat bayinya, hingga memiliki pikiran untuk melukai diri sendiri atau bayinya,” kata dr. Dewi.
Ia menegaskan, deteksi dini sangat penting. Jika seorang ibu menunjukkan gejala seperti menarik diri dari lingkungan, sering menangis, kehilangan energi, atau merasa tertekan terus-menerus, keluarga harus segera bertindak.
Salah satu cara mengatasinya yakni membawa ibu ke layanan kesehatan, seperti Puskesmas atau rumah sakit, agar bisa mendapat rujukan ke psikiater. Di sana, mereka akan menjalani psikoterapi dan, jika diperlukan, akan dilakukan pengobatan.
dr. Dewi juga mengingatkan bahwa penyembuhan tidak hanya bergantung pada ibu semata. Dukungan psikologis dari suami dan keluarga inti sangat berpengaruh.
“Banyak kasus, meski ibu sudah mendapat perawatan, proses penyembuhan terhambat karena suami masih cuek dan menganggap ini hal sepele,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Dewi mendorong pasangan suami istri untuk mencari edukasi tentang baby blues dan depresi postpartum sebelum melahirkan. Suami harus sadar bahwa perannya bukan hanya sebagai pencari nafkah, tapi juga pendamping emosional bagi istri.
Ia berharap, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, para ibu baru tidak lagi merasa sendiri menghadapi tantangan mental pascapersalinan.
“Jangan ragu minta bantuan. Kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” pungkasnya. (Adv/Ira)
![]()







