SANGATTA – Kenaikan harga telur dan perbedaan data harga cabai menjadi pembahasan utama dalam rapat pengendalian inflasi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur yang digelar beberapa pekan lalu. Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi inflasi daerah secara umum masih dalam kondisi terkendali.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan inflasi belum menunjukkan perubahan ekstrem yang dapat merugikan masyarakat maupun pelaku usaha.
“Inflasi Kutim tidak menunjukkan lonjakan maupun penurunan signifikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, harga telur di pasar lokal saat ini rata-rata berada di angka Rp1.927 per butir. Jika dikonversikan ke kilogram dengan asumsi satu piring berisi 18 butir, nilainya mencapai sekitar Rp34.700, lebih tinggi dibanding harga acuan nasional sebesar Rp30 ribu per kilogram.
Menurut Mahyunadi, perbedaan metode penghitungan antara satuan kilogram dan butir menjadi tantangan tersendiri dalam membandingkan harga secara tepat.
Tak hanya itu, pemerintah juga menemukan ketidaksesuaian antara data harga yang dilaporkan dengan kondisi pasar sebenarnya. Perbedaan harga cabai merah menjadi salah satu contoh yang harus segera dievaluasi.
“Perlu dilakukan pemantauan lebih teliti dan cross-check langsung ke lapangan agar data yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya,” katanya.
Data nasional menunjukkan inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan dan 3,84 persen secara tahunan. Sementara IPH Kutim mencapai 0,99 persen atau sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Dalam rapat yang sama, Mahyunadi mengungkapkan rencana penerapan kebijakan WFH di lingkungan Pemkab Kutim. Kebijakan tersebut disebut sedang dipersiapkan dan akan segera ditetapkan melalui keputusan bupati.
Selain membahas inflasi, ia juga mengajak seluruh organisasi perangkat daerah mulai mengadopsi penggunaan energi terbarukan melalui kendaraan listrik.
Menurutnya, penggunaan kendaraan listrik jauh lebih efisien. Perjalanan pulang-pergi Sangatta menuju Balikpapan diperkirakan hanya membutuhkan biaya sekitar Rp125 ribu.
“Pemerintah daerah pun mendorong dinas-dinas untuk mulai mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari langkah menuju efisiensi energi di masa depan,” ucapnya.
Ketua DPRD Kutim Jimmi mengatakan harga cabai sempat melonjak hingga Rp180 ribu per kilogram menjelang Lebaran. Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah mengimbau masyarakat mulai menanam cabai di pekarangan rumah sebagai langkah antisipasi menjelang Iduladha.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pakan dari luar daerah.
“Oleh karena itu, upaya menuju kemandirian pangan, termasuk produksi pakan mandiri, dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga,” kata Jimmi.(adv)
![]()







