SANGATTA – Rencana pembangunan gudang Perum Bulog di Kabupaten Kutai Timur memasuki tahapan administrasi setelah DPRD Kutim menyetujui pemindahtanganan barang milik daerah berupa lahan hibah. Persetujuan itu membuka jalan bagi pemerintah daerah untuk menyusun Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD).
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Paripurna ke-16 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 yang dipimpin Wakil Ketua I DPRD Kutim Sayid Anjas. Turut hadir Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, sekitar 20 anggota DPRD, Forkopimda, serta perangkat daerah terkait.
Bupati Ardiansyah Sulaiman mengatakan bahwa setelah mendapatkan persetujuan legislatif, pemerintah segera menyiapkan NPHD melalui Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKD). Dokumen itu nantinya menjadi dasar hukum hibah yang akan ditandatangani oleh kepala daerah.
Ardiansyah menegaskan keberadaan Bulog sangat penting dalam menjaga keseimbangan pasokan pangan. Menurutnya, lembaga tersebut berperan menyerap hasil panen petani sehingga produksi yang melimpah tetap memiliki tempat penyimpanan dan harga komoditas tetap terjaga.
“Ketika produksi berlebih, Bulog akan menyimpan, kemudian saat diperlukan stok itu bisa dikeluarkan lagi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Bulog memang memiliki kewajiban menyerap hasil produksi petani,” ujarnya.
Lahan hibah yang disiapkan berada di Kecamatan Sangatta Utara sebagaimana tertuang dalam Keputusan Bupati Kutim Nomor 640/K.809/HK/CXI/2017. Total luasnya sekitar 4,7 hektare, sementara sekitar 3 hektare akan digunakan untuk pembangunan gudang di Jalan Soekarno-Hatta.
Gudang tersebut direncanakan mampu menampung hingga 3.500 ton hasil pertanian. Kapasitas itu dinilai memadai untuk mengakomodasi produksi padi Kutim yang terus berkembang, baik dari areal persawahan maupun lahan kering.
Ia menambahkan, selama ini hasil panen masih banyak yang harus dikirim ke Samarinda untuk penyimpanan sehingga memerlukan biaya distribusi yang lebih besar. Dengan gudang Bulog di Kutim, proses penyimpanan diharapkan lebih dekat dengan sentra produksi.
“Kalau kita punya gudang sendiri, tentu akan lebih efektif dan efisien. Ini juga menjadi langkah strategis dalam mendukung petani lokal,” kata Ardiansyah.(adv)
![]()







