SANGATTA — Sebanyak 22 desa di Kutai Timur (Kutim) hingga kini belum menikmati listrik. Kondisi ini memicu langkah cepat Pemkab Kutim dengan menggagas pemanfaatan limbah cair kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan berbasis biogas.
Data tersebut mengemuka dalam forum bertajuk Pemanfaatan Limbah Sawit Menjadi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang digelar oleh Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Kabupaten Kutim. Acara ini menghadirkan PLN, pelajar, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan.
“Untuk 22 desa yang belum teraliri listrik, Pemkab Kutim memfasilitasi skema kerja sama antara PLN dan perusahaan sawit dengan memanfaatkan kelebihan daya listrik dari limbah cair sawit yang diubah menjadi biogas,” kata Kepala Bagian SDA Kutim, Arif Nur Wahyuni.
Limbah cair atau POME (Palm Oil Mill Effluent) biasanya dibuang dan berisiko mencemari lingkungan. Kini, potensi metana dari limbah tersebut justru akan diolah menggunakan teknologi biodigester untuk dijadikan bahan bakar pembangkit listrik. Kutim sendiri memiliki areal sawit hampir satu juta hektare.
“Jika limbah cair ini tidak dikelola dengan baik, dampaknya besar terhadap atmosfer. Sementara pemerintah pusat kini membatasi energi fosil. Maka, masa depan adalah energi hijau, salah satunya biogas sawit,” ujar Arif.
Namun, implementasi di lapangan tidak mudah. Joko Pratomo, Manager Biogas dan Power Plant PT PMM, menyebut tantangan teknis seperti mahalnya investasi, keterbatasan SDM, serta lokasi pabrik yang jauh dari jaringan listrik PLN.
“Kalau energi dari biogas ingin dijual ke PLN, perlu jaringan listrik yang terhubung dan regulasi tarif yang mendukung,” jelasnya.
Meski masih banyak kendala, inisiatif ini membawa harapan baru bagi desa-desa yang masih bergelap-gelapan. Energi alternatif dari limbah sawit diproyeksikan jadi solusi elektrifikasi yang murah, lokal, dan berkelanjutan. (ADV/ProkopimKutim/PK)
![]()







