Potretkata, Bontang – Kebiasaan malas membaca atau jarang melatih pikiran ternyata berdampak buruk bagi kesehatan otak. Kepala Instalasi Radiologi RSUD Taman Husada Bontang, dr. Agustiana, Sp. Rad, M.Kes, mengungkapkan bahwa otak yang jarang digunakan cenderung lebih cepat mengkerut, mempercepat proses penuaan otak.
“Otak yang tidak aktif akan mengkerut lebih cepat. Saya pernah menemukan pasien muda, belum genap 40 tahun, tapi kondisi otaknya sudah seperti orang berusia 65 tahun,” ujar dr. Agustiana, belum lama ini.
Menurutnya, pengerutan otak biasanya menjadi tanda penuaan, namun pola hidup yang tidak merangsang otak bisa mempercepat proses tersebut. Salah satu kebiasaan buruk yang memicu hal ini adalah jarang membaca atau berpikir kritis.
“Jarang membaca membuat otak jadi pasif. Struktur otaknya mengecil dan fungsi kognitif, seperti daya ingat dan konsentrasi, jadi ikut menurun,” sebut dia.
Ia menjelaskan bahwa otak, layaknya otot di tubuh, perlu dilatih agar tetap sehat. Semakin sering digunakan — misalnya melalui membaca, memecahkan masalah, atau belajar hal baru — semakin baik kondisinya.
“Kalau otot jarang digunakan, dia akan kaku dan lemah. Begitu juga otak, kalau jarang dilatih, dia akan cepat menua dan fungsinya menurun,” jelasnya.
Dampak dari otak yang mengkerut ini bisa memicu berbagai gangguan kognitif, termasuk risiko demensia di usia dini. Oleh karena itu, dr. Agustiana menekankan pentingnya kebiasaan membaca, terutama bagi generasi muda, agar otak tetap aktif dan tajam.
“Malas membaca itu bukan cuma membuat kita kurang ilmu, tapi juga mempercepat penuaan otak,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat Bontang lebih peduli terhadap kesehatan otak mereka dengan melibatkan aktivitas yang merangsang pikiran.
“Membaca adalah latihan sederhana, tapi dampaknya besar untuk menjaga otak tetap sehat sepanjang hidup,” pungkasnya. (Adv/Ira)
![]()







