TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berupaya mendorong pemanfaatan potensi rumput laut di Kecamatan Muara Badak agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengembangan fasilitas pengolahan yang diarahkan menjadi bagian dari proses hilirisasi komoditas tersebut.
Fasilitas yang disiapkan pemerintah daerah nantinya direncanakan mengolah rumput laut menjadi tepung. Produk tersebut kemudian dapat menjadi bahan dasar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan lainnya.
Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Burhanuddin, mengatakan konsep pengolahan tersebut diharapkan dapat mengubah pola pemanfaatan rumput laut dari sekadar komoditas mentah menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.
“Rencananya dari tepung itu nanti bisa dieksplor atau dibuat menjadi turunan-turunan lainnya,” jelas Burhanuddin, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Burhanuddin, Muara Badak memiliki potensi rumput laut yang dapat dikembangkan untuk mendukung terbentuknya rantai industri berbasis komoditas lokal. Potensi tersebut dinilai perlu didukung dengan fasilitas pengolahan agar hasil produksi masyarakat tidak seluruhnya keluar dalam bentuk bahan mentah.
Dengan adanya fasilitas pengolahan, rumput laut yang dihasilkan di wilayah tersebut diharapkan dapat diproses terlebih dahulu sebelum dipasarkan untuk kebutuhan industri lanjutan. Skema tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Burhanuddin mengungkapkan, mesin pengolahan yang menjadi bagian dari fasilitas tersebut saat ini sudah tersedia. Bahkan, mesin telah menjalani proses uji coba sebagai bagian dari persiapan menuju pengoperasian fasilitas.
Meski demikian, keberadaan mesin belum serta-merta membuat fasilitas dapat beroperasi secara penuh. Sejumlah sarana pendukung masih perlu diselesaikan agar keseluruhan sistem pengolahan dapat digunakan untuk kegiatan produksi.
Penyelesaian fasilitas tersebut juga menghadapi kendala dari sisi anggaran. Burhanuddin mengatakan rasionalisasi anggaran daerah membuat sejumlah pekerjaan fisik yang sebelumnya direncanakan belum dapat dilanjutkan pada tahun ini.
“Harapannya mudah-mudahan tahun depan masih ada anggarannya lagi. Karena lumayan juga di situ, pabriknya sudah ada, mesinnya sudah ada,” ujarnya.
Ia berharap dukungan anggaran dapat kembali tersedia sehingga fasilitas yang telah dibangun tidak berhenti pada tahap pembangunan. Menurutnya, penyelesaian sarana pendukung menjadi penting agar mesin yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Jika seluruh fasilitas dapat diselesaikan dan beroperasi, pabrik pengolahan tersebut diharapkan menjadi salah satu penggerak industri berbasis potensi lokal di Kukar. Rumput laut tidak hanya dipandang sebagai hasil produksi masyarakat pesisir, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan melalui proses industri.
Pengolahan menjadi tepung menjadi tahap awal dalam rencana hilirisasi tersebut. Dari produk awal itu, pemerintah daerah membuka peluang agar nantinya dapat dikembangkan berbagai produk turunan sesuai dengan kebutuhan dan potensi pasar.
Burhanuddin menilai upaya hilirisasi perlu terus didorong agar komoditas lokal memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar. Keberadaan fasilitas pengolahan di Muara Badak diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengoptimalkan potensi rumput laut sekaligus memperkuat sektor industri pengolahan di Kukar.
Pemerintah daerah pun terus mengupayakan agar fasilitas yang telah tersedia dapat segera dimanfaatkan. Dengan dukungan infrastruktur, mesin, serta pengembangan produk turunan, potensi rumput laut Muara Badak diharapkan dapat masuk ke rantai ekonomi yang lebih panjang dan memberikan nilai tambah bagi daerah maupun masyarakat. (Adv)
![]()







