SANDARAN, KUTAI TIMUR – Detak gendang tradisional bersahut-sahutan memecah keheningan pagi di Balai Adat Desa Marukangan, Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur. Di dalam balai yang dipadati warga berbusana adat khas Kutai, prosesi sakral Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas berlangsung khidmat, menegaskan teguhnya pelestarian warisan leluhur di tanah pesisir.
Ritual tahunan ini bukan sekadar seremonial budaya, melainkan manifestasi keimanan dan wujud nyata masyarakat lokal dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Prosesi sakral tersebut turut disaksikan langsung oleh Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Plt Camat Sandaran Mulyadi, Kepala Desa Marukangan Endi Haryanto, Ketua Pemangku Adat Kutai Kasmo, serta Ketua Panitia Awang.
Pelaksanaan Erau Embuang Panas di Marukangan tahun ini menyedot perhatian luas dari berbagai lapisan masyarakat. Ritual pelas atau penyucian kampung tersebut diyakini sebagai penolak bala sekaligus penetralisir energi negatif yang dapat mengganggu ketenteraman warga. Di tengah deru modernisasi dan masifnya aktivitas industri di wilayah pesisir Kutai Timur, masyarakat adat Desa Marukangan tetap teguh merawat tradisi yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal.
Prosesi inti Belian dipimpin oleh pemuka adat setempat yang melantunkan pantun-pantun sakral dan mantra penolak bala. Setiap bait yang diujarkan memuat doa keselamatan, kesuburan tanah, serta perlindungan bagi segenap warga desa dari segala bentuk marabahaya.
Bagi masyarakat Kutai, pantun bukan sekadar sarana komunikasi lisan atau hiburan semata, melainkan medium spiritual untuk berkomunikasi dengan alam semesta. Alunan irama musik tradisional yang mengiringi jalannya ritual menciptakan suasana magis nan mendalam. Para tetua adat tampak khusyuk mengikuti setiap tahapan prosesi, mulai dari penyucian ruang balai adat hingga puncaknya pada ritual embuang panas—prosesi melenyapkan unsur-unsur “panas” melambangkan sengketa dan marabahaya agar sirna dari kampung.
Kehadiran para tokoh masyarakat beserta pemuda dalam acara ini mengindikasikan estafet pelestarian budaya yang berjalan berkelanjutan. Generasi muda Desa Marukangan tampak antusias menyaksikan jalannya ritual dari dekat, menyerap nilai-nilai luhur tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keharmonisan sosial.
Ketua Panitia, Awang, mengungkapkan bahwa Kecamatan Sandaran yang berbatasan langsung dengan laut lepas menyimpan kekayaan budaya pesisir yang begitu khas.
“Pelaksanaan Erau di wilayah ini menjadi salah satu benteng pertahanan terakhir dalam menjaga identitas kultural masyarakat Kutai di tengah dinamika zaman yang kian cepat berubah,” ujar Awang.
Para tokoh adat berharap pemerintah daerah dapat terus memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi semacam ini. Di balik kemajuan infrastruktur dan percepatan pembangunan ekonomi, keberadaan tradisi adat dipandang sebagai jangkar moral yang mengikat solidaritas warga.
“Ritual Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas di Marukangan membuktikan bahwa kebudayaan lokal tidak pernah surut, melainkan terus berdenyut sebagai ruh kehidupan masyarakat yang arif dan bermartabat,” pungkasnya.(ADV/prokopim/Kutim)
![]()







